oleh

10 Mitos tentang Tidur di Masyarakat Yang Tak Perlu Dipercaya

SUARADEWAN.com — Tidur adalah momen untuk mengembalikan performa kerja Anda. Bahkan pada anak-anak, tidur merupakan saat di mana proses tumbuh dan kembang berlangsung.

Untuk itu, tidur memiliki peranan penting bagi tubuh dan wajib diberi perhatian lebih. Sayangnya, banyak mitos tidur yang berkembang di masyarakat.

Karena telah beredar dalam waktu lama, mitos tentang tidur ini begitu merasuk dan diyakini secara otomatis.

Percaya atau tidak, sebagian mitos tentang tidur bisa memberikan kerugian secara langsung maupun tidak langsung bagi kesehatan.

Agar dapat memaksimalkan momen tidur, Anda perlu mengetahui mitos tidur yang berkembang di masyarakat. Melansir situs klikdokter.com, Berikut 10 Mitos tentang Tidur yang keliru dan seharusnya tak perlu dipercaya:

1. Tidur Lama atau Sebentar Tidak Masalah, yang Penting Kualitasnya!

Hal ini adalah mitos. Menurut berbagai penelitian ilmiah, kualitas tidur yang buruk serta durasi tidur yang pendek berhubungan dengan terjadinya serangkaian penyakit, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan depresi.

Sebagai contoh, waktu tidur yang kurang dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk menggunakan hormon insulin yang kemudian dapat menyebabkan terjadinya diabetes.

2. Wajar Bila Orang yang Lebih Tua Memiliki Waktu Tidur Lebih Sedikit

Secara umum, orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap harinya.

Walaupun pola tidur dapat berubah seiring dengan bertambahnya usia, jumlah waktu tidur yang dibutuhkan setiap harinya tetap sama.

Namun, orang yang lebih tua terkadang dapat memiliki waktu tidur yang lebih sedikit. Dari sebagian kasus tersebut dapat dihubungkan dengan sering terbangun di malam hari, mengalami insomnia, dan sebagainya.

Akan tetapi, kebutuhan tidur mereka tidak kurang dibandingkan dengan orang dewasa muda.

3. Mengorok adalah Sifat Bawaan dan Bukan Masalah Besar

Mengorok bukan kondisi yang diturunkan secara genetik. Mengorok sendiri bukan kondisi yang bisa dipandang remeh dan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter. Mengapa begitu?

Selain mengganggu orang di sekitarnya, mengorok yang terjadi secara terus menerus dapat menjadi tanda seseorang mengalami sleep apnea. Ini adalah jenis gangguan tidur yang dapat memicu penyakit jantung dan diabetes.

Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya atau berhentinya aliran udara pernapasan saat tidur. Orang dengan kondisi ini dapat terbangun dengan seketika saat tertidur karena merasa sesak.

Baca Juga:  SUARADEWAN Jalin Kerjasama News Publisher dengan RCTI+

Oleh sebab itu, seseorang yang mengorok disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

4. Minum Alkohol Dapat Membantu Seseorang Tertidur Lelap

Mengonsumsi segelas anggur sebelum tidur mungkin dapat membuat seseorang jadi lebih mudah tertidur.

Akan tetapi, kualitas tidur orang tersebut belum tentu baik. Sebab, alkohol menghambat produksi melatonin dalam tubuh yang seharusnya dapat membantu Anda untuk tertidur pulas.

Mengonsumsi alkohol sebelum tidur dapat mengganggu siklus tidur rapid eye movement (REM) dan menghambat mimpi. Pada akhirnya kondisi ini akan membuat seseorang bangun dengan tubuh yang lelah, bukan merasa segar.

5. Membayar Hutang Tidur Bisa Dilakukan di Akhir Minggu

Menurut salah satu penelitian yang dipublikasi oleh American Journal of Physiology, kurang tidur berkepanjangan dapat menyebabkan seseorang merasa lebih lelah dan kurang mampu berkonsentrasi.

Hal ini masih dapat terjadi walaupun orang tersebut telah mencoba melebihi jam tidur beberapa hari setelahnya. Oleh sebab itu, sebaiknya kita harus punya waktu tidur yang cukup setiap harinya, tidak hanya pada akhir pekan saja.

6. Mengantuk di Siang Hari Berarti Tidur Malamnya Tidak Mencukupi

Rasa kantuk berlebih di siang hari dapat terjadi pada orang yang sudah tidur cukup di malam sebelumnya. Rasa kantuk seperti ini dapat terjadi akibat kondisi medis yang mendasari, seperti narkolepsi atau sleep apnea.

Oleh sebab itu, setiap gangguan tidur sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter untuk ditangani segera.

7. Kurang Tidur Tidak Akan Memengaruhi Kesehatan Kulit

Ini adalah mitos tidur yang kontra produktif dengan upaya Anda menggunakan krim kecantikan mahal.

Saat kurang tidur, kantung mata akan semakin jelas terlihat. Kulit juga cenderung kusam dan tidak bersinar, ini dikarenakan proses regenerasi kulit yang terjadi saat Anda tidur.

Dengan begitu, pastikan Anda memiliki jam tidur yang cukup, salah satunya demi merawat kecantikan kulit. Jangan lupa juga untuk minum air mineral cukup dan konsumsi makanan yang sehat.

8. Kebanyakan Tidur Bisa Menyebabkan Kegemukan

Mitos ini sering sekali terdengar di telinga kita. Apakah benar, terlalu banyak tidur bisa menyebabkan kita mengalami kegemukan? Jawabannya, belum tentu.

Apabila kita tidur lebih dari 8 jam sehari, namun dibarengi dengan aktivitas fisik yang rutin dan menjaga pola makan, maka kegemukan akan sulit itu terjadi.

Baca Juga:  Petenis Dunia Cantik Ini Rela Kencan Amal Demi Bantu Korban Covid-19

Pola makan dan aktivitas fisik memegang peranan yang lebih besar dalam menyebabkan terjadinya kegemukan.

9. Kebanyakan Tidur Tandanya Pemalas 

Jangan salah, di Jepang ada suatu tradisi yang disebut inemuri. Inemuri adalah tradisi tidur siang yang bisa dilakukan di mana saja, seperti di kantor, di sekolah, hingga tempat umum seperti di kafe, restoran, dan stasiun.

Orang Jepang akan menghormati seseorang yang inemuri dan tidak akan mengganggunya.

Sebab, inemuri berhubungan dengan rasa lelah yang dialami pekerja atau pelajar, akibat mendedikasikan waktu tidurnya untuk berjibaku mengerjakan tugas. Nah, kalau dalam kondisi ini, tidur tentunya tidak bisa dikaitkan dengan rasa malas.

Jika Anda baru saja bekerja dengan giat hingga kelelahan, maka tidur adalah cara yang baik untuk mengembalikan energi.

Lain halnya bila Anda terus menerus tidur tanpa disertai kegiatan atau upaya bekerja giat. Tentunya kondisi ini tidak bisa disamakan.

10. Nyeri Leher Sehabis Bangun Tidur Akibat ‘Salah Bantal

Pernahkah Anda disarankan untuk mencuci atau menjemur bantal setelah mengalami kekakuan atau nyeri leher ketika bangun tidur?

Apa Anda pernah disebut-sebut mengalami ‘salah bantal’ karena merasakan nyeri leher setelah bangun tidur?

Sayangnya, hal tersebut tidak benar dan termasuk ke dalam mitos tentang tidur. Kaku atau nyeri leher yang muncul ketika bangun tidur dapat terjadi akibat ketegangan atau strain otot.

Hal ini bisa disebabkan karena Anda tertidur dalam posisi tidak tepat atau kurang ergonomis.

Ketika terlalu lelah, sangat mungkin kita bisa terlelap dalam posisi leher yang tidak lurus. Karenanya, otot harus menyangga posisi tidak fisiologis  tubuh ini semalaman. Akibatnya, dapat muncul nyeri atau kekakuan otot leher keesokan paginya.

Demikianlah beberapa mitos tidur yang mungkin sering Anda dengar. Sekarang, Anda sudah tahu penjelasan yang benar dibalik mitos-mitos tersebut. Semoga dengan memperbaiki pemahaman, kualitas tidur bisa ditingkatkan demi memperbaiki performa Anda keesokan harinya. (kld)

Komentar

Berita Lainnya