HomeNasionalHukum dan HAM

Aktivis Kasum Minta Komnas HAM Tetapkan Kasus Munir sebagai Pelanggaran HAM Berat

Aktivis Kasum Minta Komnas HAM Tetapkan Kasus Munir sebagai Pelanggaran HAM BeratAktivis HAM, Alm. Munir Said Thalib (Munir).

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Kasus pembunuhan aktivis hak asai manusia (HAM), Munir Said Thalib, dinilai sebagai bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) meminta Komnas HAM segera tetapkan kasus pembunuhan Munir sebagai pelanggaran HAM berat.

Permintaan itu disampaikan Kasum berdasarkan kajian mendalam bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil.

“Selama ini konstruksi penanganan kasus pembunuhan Cak Munir yang sejatinya adalah pembunuhan berencana,” ujar aktivis Kasum sekaligus Direktur LBH Jakarta Arif Maulana, dalam konferensi pers, Kamis (19/8/2021).

Menurut Arif, opini hukum atau legal opinion terkait kasus Munir telah diserahkan kepada Komnas HAM pada September 2020.

Arif menuturkan, merujuk Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, kasus Munir telah memenuhi unsur untuk dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat.

Baca Juga:  Alumni 212 Bantu Rizieq, Komnas HAM Siap Beri Rekomendasi

Berdasarkan Pasal 7 dan Pasal 9 UU Pengadilan HAM, kasus yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kemudian, kejahatan terhadap kemanusiaan dilakukan secara meluas dan sistemik.

Di sisi lain, Arif menuturkan, pembunuhan Munir disebabkan persekongkolan atau konspirasi yang terorganisasi dan melibatkan institusi negara.

“Yang tentu tidak akan mampu bisa diungkap jika hanya menggunakan mekanisme hukum biasa,” kata Arif.

Munir dibunuh pada 7 September 2020 dalam penerbangan Garuda Indonesia GA-974 dari Jakarta ke Amsterdam melalui Singapura.

Pemberitaan Harian Kompas 8 September 2004 menyebutkan, Munir meninggal sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda, pukul 08.10 waktu setempat.

Hasil autopsi menunjukkan adanya senyawa arsenik dalam tubuh mantan Ketua Dewan Pengurus Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) itu.

Baca Juga:  Sambangi Komnas HAM, Sejumlah Alumni 212 Gelar Petisi Bela Ulama dan Aktivis

Proses hukum terhadap orang yang dianggap terlibat dalam pembunuhan Munir pernah telah dilakukan. Pengadilan menjatuhkan vonis 14 tahun penjara kepada Pollycarpus Budihari Priyanto yang merupakan pilot Garuda Indonesia.

Pengadilan juga memvonis 1 tahun penjara kepada Direktur Utama Garuda Indonesia saat itu, Indra Setiawan. Dia dianggap menempatkan Pollycarpus di jadwal penerbangan Munir.

Sejumlah fakta persidangan bahkan menyebut adanya dugaan keterlibatan petinggi Badan Intelijen Negara (BIN) dalam pembunuhan ini. Akan tetapi, tidak ada petinggi BIN yang dinilai bersalah oleh pengadilan.

Pada 13 Desember 2008, mantan Deputi V BIN Mayjen Purn Muchdi Purwoprandjono yang menjadi terdakwa dalam kasus ini divonis bebas dari segala dakwaan. (komp)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0