oleh

Bahaya, Penceramah dan Pelawak Kini Susah Dibedakan

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Sering kali para dai atau penceramah menyelipkan guyon di setiap ceramah mereka, dan menimbulkan tawa. Ini akan berbahaya karena boleh jadi, guyonan itu lebih terserap ke memori ingatan, ketimbang konten ceramah.

Guyon memang menjadi salah satu cara ampuh agar ceramah tidak terdengar membosankan, untuk itu kode etik penyiaran dakwah, dirasakan perlu dibuat oleh Kementerian Agama (Kemenag).

“Kita kan sering lihat orang keluar dari pengajian, yang selalu diingat bukan pada konten ceramahnya, tapi justru pada ger-nya. Apa yang disampaikan penceramah membuat pendengar terbahak-bahak dan mengeluarkan tawa terlalu berlebihan,” kata Ade Marfudin, Ketua Rabithah Haji Indonesia, Senin (30/10) siang.

Ade juga mengajak masyarakat memperhatikan setiap penceramah, apabila tidak tawa, maka ia merasa rugi. Perbedaan antara penceramah dan pelawak itu harus betul-betul diperhatikan pada kontennya, yang mana penceramah, yang mana pelawak.

Baca Juga:  Usulkan Mubaligh Pilihan Anda ke Nomor Kemenag: 08118497492

Baca juga:

“Kalau pelawak kan memang dia pakemnya di lawak, kalau penceramah ya harus pada dimensi ceramahnya yang kuat. Penceramah harus menjadi seseorang yang bertutur kata baik, contoh yang baik, suri tauladan,” ucap Ade.

Menurut Ade, canda memang diperbolehkan sebagai bumbu pada etika dakwah, tetapi bumbu yang dibolehkan adalah bumbu yang memberikan kemudahan orang untuk bisa mencerna. “Kalau ini kan, ada dai yang semua pembicaraannya dari awal sampai akhir orang mencari ger-nya aja yang ditangkap,” kata Ade.

Menurut Ade, Kode Etik Penyiaran Dakwah Kemenag memang diperlukan lantaran banyak juga dai yang tidak ikut serta dalam lembaga Islam tertentu. Dan ini juga penting bagi MUI untuk mengundang para dai, disegarkan soal pengetahuan etika dakwah, dasar-dasar dakwahnya harus disampaikan.

Baca Juga:  Besok, Kemenag Adakan Sidang Itsbat Tentukan Awal Ramadhan

“Metodologinya juga harus disampaikan. Karena dakwah pada saat ini kan juga berkembang, artinya sudah harus komunikatif, lebih punya bobot yang baik,” kata Ade.

Karena, perkembangan teknologi media saat ini, seharusnya bisa menjadi dakwah yang mujarab, tetapi masih ada saja orang-orang yang mengundang penceramah yang banyak guyonnya, banyak casing tertawanya. “Oke lah tidak apa-apa misalnya banyak canda, tapi ada batasan-batasan etika yang harus muncul pada penceramah,” papar Ade. (REP)

Komentar

Berita Lainnya