Benarkah Gedung DPR Mirip Bra Perempuan? Ini Filosofinya

SUARADEWAN.com – Benarkah gedung DPR mirip Bra Perempuan? Pertanyaan tersebut muncul dalam obrolan pelepas penat di antara sejumlah mahasiswa ketika berdemonstrasi di depan gedung DPR ketika menolak OmnibusLaw tahun lalu.

Hal tersbut muncul sebab tampilan atap gedung DPR yang berbentuk sepasang gundukan, dan merupakan icon selain Monas yang dianggap sebagai simbol dari kelamin lelaki/lingga.

Untuk lebih jelas, mengapa gedung DPR berbentuk demikian. Mari kita simak berikut.

Menurut buku Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia: Sejarah, Realita, dan Dinamika (2006), gedung DPR/MPR memiliki struktur dan konstruksi khas.

Struktur atap gedung DPR/MPR yang menyerupai kepakan sayap burung garuda merupakan penggabungan dua bagian kubah. Bentuk atap itu disebut muncul secara tidak sengaja dan waktu itu belum pernah diciptakan di seluruh dunia.

Pembangunan kubah hijau tanpa pilar-pilar penyangga di bawahnya juga melibatkan Ir. Sutami.

Atap gedung ini mirip dengan prinsip struktur sayap. Dikutip dari detikX “Jejak Sutami di Gedung MPR/DPR”, semula atap akan berbentuk kubah murni. Tapi Sutami selaku ahli struktur bangunan mengingatkan hal itu akan memunculkan masalah serius.

Baca Juga:  Komisi IX Sayangkan Penanganan Wabah DBD Kurang Progresif

Sebab, hal ini menyangkut pemerataan penyaluran beban gaya vertikal ke tiang-tiang penopang kubah. Satu saja di antara tiang tersebut melorot akan menimbulkan akibat berantai. Seluruh kubah bakal mengalami keretakan, pecah, dan akhirnya runtuh.

Selain itu, pemakaian kubah murni memerlukan banyak tiang penyangga, yang akan mengganggu pembagian ruang-ruang sidang di lantai dasar.

Dalam keadaan mendesak, Soejoedi menugasi Nurpontjo untuk membikin maket kubah alternatif. Sebagai insinyur muda yang baru lulus dari ITB, Nurpontjo pun kelabakan.

Hingga suatu saat dia memotong cetakan kuali untuk kue serabi menjadi dua bagian. Tujuannya adalah menghasilkan bentuk kubah yang tidak retak. Percobaan belum tuntas, Soejoedi telanjur datang dan melihatnya.

“Wah, bagus ini! Akan saya tanyakan kepada Pak Sutami sebagai pelaksana teknis apakah bentuk seperti ini bisa terealisasi,” ujar Nur mengenang seperti ditulis Intisari edisi Oktober 1991.

Ternyata Sutami, yang kemudian membuat sketsa dan perhitungan teknisnya, menjamin kubah semacam itu bisa dikerjakan. Sebab, desain tersebut tak berbeda dengan prinsip struktur kantilever pada pesawat tebang.

Dia malah berani menjamin, dengan bentangan 100 meter pun, bentuk struktur ini masih dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, yang berfungsi sebagai badannya adalah dua buah busur beton yang dibangun berdampingan dan akan bertemu pada satu titik puncak.

Baca Juga:  Anggota Komisi III DPR Sebut Penusukan 2 Anggota Brimob Tindakan Biadab

“Ketika pengecoran atap kubah, tak kurang dari 27 ribu orang terlibat langsung siang-malam seperti armada semut,”tutur Nurpontjo.

Keberhasilan Sutami sebagai pelaksana proyek dan juga turut andil dalam merealisasi atap berbentuk kubah mengundang pujian dari gurunya semasa di ITB, Ir Roosseno. Ahli beton itu mengakui gedung Conefo sebagai karya besar Sutami.

“Kehebatan dia adalah kemampuan organisatorisnya. Membangun gedung sebesar itu, dengan bentuk kubah raksasa yang unik, pengalaman belum dimilikinya, dan dengan segala keterbatasan pada waktu itu, ditambah lagi dengan singkatnya waktu yang diberikan oleh Bung Karno, adalah sebuah tantangan besar bagi seorang insinyur muda seperti Sutami,”tutur Roosseno seperti diceritakan kembali oleh Hendropranoto Suselo, yang pernah menjadi salah satu staf Sutami di Departemen Pekerjaan Umum.

Baca artikel detikedu, “Sejarah Gedung DPR/MPR, Dikira Mirip Kura-kura tapi Ternyata..” selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6415714/sejarah-gedung-dprmpr-dikira-mirip-kura-kura-tapi-ternyata.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Tinggalkan Balasan

banner 728x90