oleh

Cerita Cak Nur Tentang Kongres HMI 1966 di Solo

Menyangkut kongres 1966 di Solo itu sebenarnya ada kasus yang lebih spesifik. Ketika kongres di Solo pada September 1966, saya pergi ke Solo sama sekali tidak ada bayangan untuk menjadi ketua, jadi hanya sebagai peserta saja dari rombongan PB HMI. Tapi, karena waktu itu situasianya gawat sekali, PB menjadi sasaran kritik yang luar biasa dari cabang-cabang seluruh Indonesia.

Karena, Mar’ie juga membuat suatau blunder yang gak karu-karuan. Mar’ie waktu itu dinilai banyak orang sebagai Machiavelis. Demi survive-nya HMI dia mengusulkan atas nama PB kepada pemerintah agar Kasman Singodimejo dihukum mati. Memang, kalau kita tahu kesulitannya waktu itu, ketika HMI dijepit nggak karu-karuan oleh PKI, itu secara retorik salah satu yang bisa menyelamatkan.

Pada waktu itu Kasman sering membuat statement yang dinilai kontra-revolusi. Kasman sebagai orang Masyumi saat itu sangat keras kepala. Meskipun nanti dialah orang yang paling fleksibel menerima partai baru, ketika pemerintah tidak merehabilitasi Masyumi. Tapi, waktu itu komentar-komentar Kasman keras sekali dan sering menjadi isu di koran-koran. Akibatnya HMI dipojokkan. HMI memang dicap sebagai anak Masyumi, tidak hanya oleh PKI, tapi juga semuanya.

Yang melindungi HMI memang dicap sebagai anak Masyumi, tidak hanya oleh PKI, tapi juga semuanya. Yang melindungi HMI antara lain Mas Subchan, Idham Chalid, Jamaluddin Malik. Dari pihak tentara, Pak Yani. Beliau buat jalur ke HMI melalui Achmad Tirtosudiro. Keduanya sama-sama tentara. Dan pak Achmad sendiri bekas ketua PB HMI sekaligus salah seorang pendiri HMI. Tapi tetap harus didukung oleh retorika-retorika. Di situlah Mar’ie membuat statement yang kontroversial itu secara resmi dikoran-koran: menuntut agar Kasman dihukum mati.

Sebenarnya pernyataan Kasman merupakan pernyataan-pernyataan politik yang sangat umum sekali. Tetapi, kemudian di nilai kontra-revolusi. Sasarannya Mar’íe juga sebenarnya bukan Kasman itu sendiri, tetapi untuk menyelamatkan HMI. Tapi, waktu itu siapa yang bisa mengerti bahwa tujuan Mar’ie untuk melindungi HMI. Karena, HMI terus diseret dan waktu itu disebut Darul Islam (DI)-kota.

Baca Juga:  Pancasila "kalimat-un sawa", Pemikiran Nurcholish Madjid

Apalagi anak-anak UI saat itu militannya nggak karu-karuan. Misalnya itu, Farid Laksamana, yang mati terbawa banjir. Saat mahasiswa, kesukaannya membeli minuman dalam botol, terus dipecah botolnya itu dan dipakai untuk mengecam anak-anak CGMI.

Pokoknya, anak-anak HMI keras-keras waktu itu. Soalnya, menyangkut urusan hidup atau mati. Jadi, pengurus PB HMI ketika Kongres di Solo itu diserang habis-habisan. Sampai-sampai Soelastomo, ketua umum PB waktu itu, menangis. Lalu dia meminta saya untuk memberikan penjelasan. Kemudian saya jelaskan panjang-lebar, dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Untungnya logosentrisme itu berguna.

Pada waktu itu yang bisa berbahasa Inggris di PB memang sedikit sekali. Sedangkan saya sudah membaca buku bermacam-macam, termasuk teori-teori ideologi dari Karl Manheimm. Yang tahu bahasa Inggris di PB itu hanya Mar’ie, Ekky dan saya. Malah Mar’ie kadang-kadang berbahasa Arab sama saya. Mar’ie itu pintar bahasa Arab. Dia itu sekarang saja dipanggil Pak Harto (Presiden Soeharto) ustadz. Dia itu orang al-Irsyad, dari Peneleh, Surabaya. Jadi, dia orang Ampel.

Oleh karena itu, ketika saya mengutip macam-macam, termasuk misalnya ideology tends to be obsolete, itu saya sudah hafal sebelumnya. Lalu saya menerangkan macam-macam. Waktu itu sudah hampir masuk subuh. Peserta malah meneriakkan terus, terus!!. Akhirnya, penjelasan PB HMI diterima. Lalu mereka teriak-teriak Nurcholish, Nurcholish!!. Akhirnya saya menjadi dipilih menjadi ketua umum.

Ketika saya terpilih menjadi ketua umum PB HMI, memang banyak sekali orang yang mengklaim bahwa mereka mempunyai andil dalam melakukan rekayasa sehingga saya terpilih menjadi ketua umum PB HMI. Antara lain Mas Dawam dan E. Z. Muttaqien. Misalnya saja kelompok Mas Dawam mengatakan bahwa mereka tadinya menjagokan Ekky,lalu mereka mengatakan bahwa mereka melihat agaknya yang lebih pas untuk maju adalah saya. Sehingga dibuatlah semacam rekayasa agar saya menjadi ketua umum.

Baca Juga:  Meneropong Metamorfosa Kader HMI

Saya sendiri merasa adanya rekayasa semacam itu. Menurut saya, kalau pun ada yang paling besar peranannya itu adalah Pak Mudji Rahardjo. Kalau tidak salah dia ketua I atau II dari Bandung. Dialah yang teriak pertama-tama. Begitu saya selesai membacakannya pembelaan itu.

Lalu dia berteriak Allahu Akbar. Lalu orang lain terpengaruh.

Jadi, klaim yang mengatakan bahwa mereka punya andil dalam merekayasa saya menjadi ketua umum PB seperti sindrom telur colombus; ah, kalau begitu saya juga bisa.

Proses saya menjadi ketua umum berjalan natural saja. Saya tidak mengklaim bahwa HMI saat itu hendak dibuat semakin intelektual. Pokoknya saya melihat waktu itu terjadi kevakuman, kemudian saya coba isi. tetapi kemudian unintended consequences-nya besar. Yaitu saya malah dipilih sebagai ketua umum.

Waktu itu saya sama sekali tidak berpikir untuk menjadi ketua umum. Bahkan yang terpikir oleh saya adalah Ekky yang pantas menjadi ketua umum.Saya mengagumi betul Ekky sejak dulu. Sebab dialah penggerak pertama demonstrasi anti-PKI waktu itu, antara lain ke kedubes Amerika dsb. Dan kejadiannya lucu. Lucunya karena dia memperdayakan Dutabesar Amerika waktu itu, Marshal Green.

*Disadur dari buku Autobiografi Nurcholish Madjid, hlm. 57-60

SELAMAT BERKONGRES HMI, SELAMAT MILAD CAK NUR

Komentar

Berita Lainnya