HomeSosmed

Cerita Mereka Tentang Pilgub DKI

Cerita Mereka Tentang Pilgub DKI

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Pemilihan Gubernur Provinsi DKI Jakarta yang disebut-sebut oleh banyak pengamat sebagai Pilgub Citarasa Pilpres, dimana Tiga Tokoh Begawan Politik di Indonesia turut turun gunung yaitu Ibu Megawati Soekarnoputri, Bapak SBY, dan Bapak Prabowo. Banyak kejutan terjadi dibalik setelah KPU DKI Jakarta menutup pendaftaran di Pilgub DKI Jakarta dan setelah diputuskan hanya ada 3 pasang calon yang maju bertarung memperebutkan kursi DKI-1.

Sederatan nama cagub terhempas, yang mana merupakan deretan nama-nama cagub yang sempat digadang-gadang partai politik maupun yang berniat maju non parpol, meski pencalonannya gagal, mereka berlapang dada menerimanya dan berharap Pilgub DKI Jakarta 2017 melahirkan pemimpin yang mampu memperbaiki wajah Jakarta dan berjuang mensejahterakan warga Ibu Kota.

Adapula juga nama-nama yang kemudian muncul menyampaikan analisisnya, dan bercerita tentang Pilgub selera pilpres ini, berikut kami kumpulkan bebeberap diantara banyaknya cerita dibalik kisah pilgub DKI ini yang bertebaran di banyak media. Mulai dari cerita mereka yang gagal menjadi cagub, sampai pada cerita dari mereka yang mendukung calonnya.

Surat Yusril Ihza Mahendra

Yusril Ihza Mahendra

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Keputusan yang telah diambil oleh partai-partai non pendukung petahana pada Jum’at 23 September 2016 mungkin telah membuat rasa puas pada sebagian warga masyarakat, namun bisa pula menimbulkan rasa kecewa pada sebagian lainnya.

Namun apapun juga perasaannya, itulah realitas politik yang kita hadapi. Karena itu, saya ucapkan selamat kepada pasangan Agus dan Sylviana dari “Koalisi Cikeas” dan pasangan yang hari ini juga namanya akan diumumkan oleh Koalisi Gerindra dan PKS untuk bertarung dalam memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017.

Saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada warga masyarakat, terutama dari lapisan bawah yang telah memberikan dukungan kepada saya. Terima kasih juga saya sampaikan kepada para ulama, habaib, ustadz dan muballigh yg telah berusaha keras membantu saya.

Juga kepada para relawan, politisi, aktivis, wartawan, tokoh2 LSM dan semua kalangan yang dengan tulus ikhlas membantu saya dalam proses pencalonan Gubernur DKI Jakarta yang lalu.

Bahwa upaya ini tidak berhasil, semuanya saya serahkan kepada kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Saya dan keluarga serta teman-teman seperjuangan tetap sabar dan tabah menghadapinya.

Perjuangan kita dalam membangun demokrasi, menegakkan hukum dan keadilan, serta membangun ekonomi kerakyatan yg berkeadilan serta menegakkan kedaulatan rakyat dan martabat bangsa dan negara masih jauh dan masih panjang.

Kita tetap harus sabar dalam berjuang dengan mengorbankan apa saja yg perlu dikorbankan. Politik bukanlah sebuah permainan kekuasaan dengan menonjolkan kepentingan sesaat tetapi sebuah pengabdian yang tulus kepada rakyat, bangsa dan negara untuk memajukannya.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas segala bantuan, pengorbanan dan dukungan yang datang dari begitu banyak orang dalam proses pencalonan gubernur DKI Jakarta ini.

Saya mohon maaf pula, jika saya telah mengecewakan para pendukung karena ketidakberhasilan saya maju sebagai calon. Saya memetik hikmah dan sekaligus introspeksi atas semua yang terjadi.

Akhirnya hanya kepada Allah jua, saya mengembalikan segala persoalan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Yusril Ihza Mahendra

Rizal Ramli: Kurang Modal Finansial

Rizal Ramli

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada lebih dari 50 organisasi masyarakat yang membujuk, berdoa dan berjuang untuk kita bersama-sama mengubah Jakarta menjadi lebih manusiawi, tanpa tangisan, lebih adil dan lebih asyik,” ucap Rizal Ramli dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/9/2016).

“Saya mohon maaf atas berbagai salah kata dan salah tindakan, juga kesalahan saya yang terlalu mengandalkan modal sosial dan kurang memahami bahwa modal finansial sangat menentukan di era demokrasi liberal yang padat modal ini. Ketergantungan itu membuat politik semakin pragmatis dan menjauh dari kepentingan rakyat,”

“Saya bersyukur karena apapun telah dikerjakan untuk kemakmuran bersama, dilakukan dengan kehormatan dan integritas (with honor and integrity). Saya juga bersyukur bahwa dinamika ini membuka kesempatan untuk memperjuangkan nilai-nilai, misi dan program untuk kesejahteraan bersama”

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0