Chairil Anwar, Gema Seratus Tahun Kelahirannya

Ruang Pameran "Aku Berkisar Antara Mereka" di Galeri Salihara.
Ruang Pameran "Aku Berkisar Antara Mereka" di Galeri Salihara.

SUARADEWAN.COM — Komunitas Salihara menggelar pameran bertajuk “Aku Berkisar antara Mereka” untuk mengenang Chairil Anwar. Bertempat di Galeri Salihara, Jakarta, selama 28 Oktober hingga 4 Desember 2022, kisah perjalanan sang penyair dapat dicermati dari lembaran-lembaran arsip. Ini hanyalah salah satu kegiatan yang diadakan Salihara dari seluruh rangkaian program “Seratus Tahun Chairil”.

Pentingnya karya Chairil seperti yang dituturkan Zen Hae, “Puisi-puisi Chairil Anwar adalah pencapaian terbaik sastra Indonesia pada paruh abad ke-20. Ditulis dengan bahasa yang modern dan segar, puisi-puisi Chairil menjadi penanda penting, bahkan semacam ‘cetak biru’ bagi perpuisian Indonesia modern masa itu dan berikutnya sampai hari ini.”

Terletak di awal ruang pameran akan terlihat kronik perjalanan hidupnya. Chairil lahir 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes Manan dan Saleha di Medan. Kemudian foto-foto masa muda, video tentang Chairil di benak orang-orang, kisah-kisah orang-orang yang ikut membentuk kepenyairannya serta buku, majalah, koran, dan coretan tangan Chairil yang dihadirkan oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin tertata dengan apik memenuhi tembok, meja, bahkan lantai ruang pameran.

Baca Juga:  Merayakan Sastra dan Kota dalam JILF 2022

Laksmi Pamuntjak, sebagai kurator, mengatakan, “Perayaan 100 tahun ini untuk memaknai ulang kontribusi sang penyair serta mendekonstruksi mitos-mitos seputar karyanya.” Penyelenggara pameran juga berharap pengunjung mendapatkan pengalaman estetik sekaligus epistemik dalam program ini.

Salah satu kisah yang menggetarkan adalah saat Chairil membaca karya Sutan Takdir Alisyahbana, yaitu “Layar Terkembang”, tetapi polisi kemudian menyitanya. Chairil kemudian menyadari bahwa karya sastra dapat digunakan sebagai bentuk perlawanan, akhirnya ia yakin bahwa menulis adalah takdirnya.

Baca Juga:  Membuka Kemitraan dengan Perusahaan Jepang, Berikut Wawancara Bersama Ketum Kapten Indonesia

Chairil meninggal pada usia 27 tahun pada tanggal 28 April 1949. Karyanya meliputi 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan, seluruhnya berjumlah 94. Ia, bersama Asrul Sani dan Rivai Apin dinobatkan sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia oleh H.B. Jassin. Karya Chairil dipengaruhi oleh banyak penyair Belanda, Jerman, dan Amerika. Pengaruh Amerika datang dari Archibald MacLeish, John Cornford, Conrad Aiken, T.S. Eliot, Ezra Pound, dan W.H. Auden. (*)

Tinggalkan Balasan

banner 728x90