HomeRagamIPTEK

Chinguetti, Perpustakaan Kuno di Gurun Sahara Mauritania yang Jadi Saksi Peradaban Islam

Chinguetti, Perpustakaan Kuno di Gurun Sahara Mauritania yang Jadi Saksi Peradaban IslamChinguetti, perpustakaan kuno di tengah Gurun Sahara. Foto: Shutter Stock

SUARADEWAN.com — Perpustakaan tentunya bisa kamu temukan dengan mudah di sekolah, universitas, ataupun ruang publik lainnya. Bicara soal perpustakaan, tahukah kamu ternyata ada perpustakaan kuno yang usianya sudah lebih dari ribuan tahun? Ya, perpustakaan ini tak hanya menyimpan manuskrip kuno, tapi juga jadi saksi peradaban Islam.

Dilansir Amusing Planet, terletak di tengah Gurun Sahara, tepatnya Mauritania, Chinguetti menjadi rumah dari perpustakaan yang menyimpan berbagai teks atau manuskrip kuno yang menjadi saksi peradaban Islam.

Perpustakaan-perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 1.300 naskah Al-Quran tua, serta teks-teks peradaban Islam dan Timur Tengah yang berusia ratusan tahun.

Menariknya, kondisi perpustakaan-perpustakaan tersebut beserta seluruh isinya tak pernah berubah dan masih mempertahankan bangunan lamanya.

Lalu, seperti apa sejarah kota ini dan bagaimana perpustakaan-perpustakaan ini berdiri?

Chinguetti dan Jejak Sejarah Peradaban Islam

Chinguetti merupakan kota yang didirikan pada abad ke-13 silam. Kota ini sendiri terdiri dari bangunan-bangunan yang terbuat dari batu dan lumpur yang berwarna kemerahan. Atapnya berbentuk datar yang disusun dari potongan-potongan kayu akasia.

Baca Juga:  Jumlah Muslim di Jerman Bertambah Satu Juta Dalam Lima Tahun Terakhir

Bangunan-bangunan tersebut sebetulnya banyak yang telah menjadi reruntuhan. Dulu, Chinguetti pernah dihuni oleh sekitar 200 ribu orang. Kini, kota tersebut hanya dihuni sekitar beberapa ribu penduduk saja.

Menariknya adalah para penduduk kota ini hidup sambil menjaga salah satu peninggalan sejarah paling berharga, yakni manuskrip Islam kuno. Manuskrip tersebut adalah saksi bisu pasang-surutnya eksistensi Chinguetti dari masa ke masa.

Manuskrip-manuskrip ini diperkirakan berasal dari masa kejayaan Chinguetti di abad kesebelas. Di mana Chinguetti merupakan salah satu rute yang dilalui oleh pedagang Arab dan Afrika di Gurun Sahara.

Banyak pengendara unta yang melintas dan berhenti untuk beristirahat. Selain itu, Chinguetti juga menjadi titik kumpul bagi para jemaah haji dalam perjalanan menuju Makkah.

Dengan banyaknya orang yang datang ke Chinguetti, pertukaran gagasan mengenai ilmu pengetahuan dan agama pun terjadi.

Baca Juga:  Makna Hijrah Menurut Mamah Dedeh

Chinguetti yang tadinya dikenal sebagai tempat persinggahan pun berubah menjadi tempat untuk belajar berbagai bidang ilmu, seperti agama, hukum, dan sains.

Manuskrip-manuskrip yang ada di Chinguetti disimpan di beberapa perpustakaan. Sayangnya, jumlah perpustakaan yang masih ada kini semakin menyusut. Bahkan, dari 30 perpustakaan kini hanya tersisa lima perpustakaan saja.

Perpustakaan yang masih mampu bertahan inilah yang dikelola oleh penduduk lokal. Meski demikian, usaha menjaga perpustakaan dan koleksinya bukan hal mudah, karena kerasnya iklim gurun membuat peninggalan berharga tersebut rusak pelan-pelan.

Pemerintah Mauritania sebetulnya sudah berusaha mendapatkan manuskrip-manuskrip tersebut agar tindakan pelestarian bisa dilakukan. Namun, warga Chiguetti menolak menyerahkannya dan memilih untuk menjaganya sendiri.

Mereka yang datang ke Chinguetti diperkenankan berkunjung ke perpustakaan secara gratis. Bagi para pemilik perpustakaan di kota itu, perpustakaan adalah sebuah simbol status yang tinggi dan tak layak dijadikan sumber pendapatan. (***/kum)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0