Di balik Arsitektur Desain Kubah Gedung MPR/DPR

SUARADEWAN.com – Jika melihat Gedung MPR/DPR RI di Jakarta, dan memperhatikan kubah atapnya, tentu kita mengira hal tersebut terinspirasi dari batok kura-kura. Hal ini menjadikannya sering disebut sebagai ‘gedung kura-kura’. Padahal sebenarnya bentuk kubah Gedung MPR/DPR yang terbelah dan diapit beton di tengahnya itu menginspirasi perancangnya tentang bentuk sayap garuda.

Soejoedi Wirjoatmodjo, salah satu arsitek terkemuka Indonesia kala itu, memenangkan sayembara rancangan desain Gedung MPR/DPR dari pemerintah Indonesia pada tahun 1965. Dalam mendesain, Soejoedi bekerja bersama dua rekannya, yakni Ir. Sutami sebagai ahli struktur dan Ir. Nurpontjo sebagai pembuat maket.

Sehari sebelum hari terakhir penyerahan desain Gedung MPR/DPR dalam lomba, Ir. Nurpontjo bermaksud membuat bagian atap maket dengan bentuk kubah murni. Ia mencetak bahan plastik untuk maket dengan cara mengepressnya di antara dua kuali penggorengan serabi. Namun hasilnya keriput memenuhi bagian puncak kubah. Ketika mengulang, hasilnya sama, masih keriput.

Baca Juga:  UU Kontroversial Anti Muslim Biang Keladi Konflik Hindu-Muslim India

Nurpontjo kemudian menggergaji kubah keriput itu. Maksudnya, ia akan membuang bagian yang keriput, dan menyatukannya kembali menjadi kubah yang halus sebagai atap maket Gedung MPR/DPR. Tiba-tiba Soejoedi datang dan mengambil kedua belah potongan kubah tersebut dan mengutak-atiknya.

Ia kemudian memperkirakan bentuk gabungan kedua potongan tersebut. Ia kemudian memberikan tambahan dua busur beton di atasnya. Soejoedi mengatakan bentuk tersebut bagus, dan segera meminta pendapat Ir. Sutami. Sutami pun melakukan perhitungan dengan cepat, dan mengatakan bila bentuk tersebut mempunyai prinsip seperti sayap yang menempel pada badan pesawat. Insinyur struktur bangunan itu pun menjelaskan bentuk demikian justru dapat bertahan lama dan dapat menahan beban hingga 100 meter bentangan atap dan bangunan Gedung MPR/DPR.

Baca Juga:  Ketua DPR Apresiasi Pembentukan Unit Kerja Presiden-PIP

Untuk memberikan tumpuan dan ‘badan pesawat’, dua busur beton yang berdampingan bertemu pada satu titik di puncak bangunan. Dua busur beton ini kemudian terbenam dalam tanah untuk menyalurkan beban. Konstruksi beton inilah yang kemudian memungkinkan menyangga sayap-sayap berukuran hingga 2,5 kali kubah beton, sehingga atap bangunan Gedung MPR/DPR tampak seperti sayap garuda.

Pemerintah kemudian mewujudkan rancangan Gedung MPR/DPR tersebut selama tahun 1965 hingga 1968. Dan atap Gedung MPR/DPR tersebut masih kokoh dan ikonik hingga saat ini. ***

Tinggalkan Balasan

banner 728x90