oleh

Dia Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei

SUARADEWAN.com — Mungkin tidak ada pemimpin negara di dunia ini sekomplit jabatan politik yang pernah dia pegang, bahkan tidak ada yang punya pengalaman berpolitik sekaya yang dia alami. Dimasa perjuangan revolusi Islam di Iran, dia santri, muballigh dan sekaligus aktivis.

Di usia 24 tahun dia sudah harus merasakan pengap dan dinginnya jeruji besi. Ia dipenjara pertama kali karena menjadi penyambung pesan Imam Khomeini kepada Ayatullah Milani.

Tahun-tahun berikutnya, dia keluar masuk penjara karena ceramahnya yang diklaim subversif dan anti rezim. Dia berhasil berkali-kali lolos dari kematian, dengan teror yang dilakukan bukan hanya oleh rezim dan kaki tangan asing, namun juga oleh kelompok anti rezim yang tidak sejalan dengan garis perjuangannya.

Dadanya mengalami luka bakar dan tangan kanannya sampai cacat dan tidak lagi berfungsi, akibat bom yang dipasang di tape recorder saat dia berorasi yang ditujukan untuk menghabisi nyawanya.

Pasca kemenangan revolusi Islam Iran, dia menjadi salah satu anggota Dewan Revolusi yang bertugas menyusun UUD. Dan setelah pemerintahan terbentuk dia ditugaskan menjadi panglima militer yang bertanggungjawab atas seluruh urusan-urusan militer, kepolisian dan keamanan.

Diperiode selanjutnya, dia menjadi anggota parlemen dengan menduduki ketua komisi pertahanan. Bersamaan dengan itu, dia juga diminta Imam Khomeini, sebagai Imam Jumat Tehran.

Baca Juga:  Pidato Ayatollah Ali Khamenei Memperingati Hari Quds Internasional 2020

Di pertengahan tugas sebagai wakil rakyat, dia terpilih untuk menggantikan Presiden kedua Iran Muhammad Ali Rajai yang gugur akibat teror bom. Dia menjadi Presiden ketiga Iran disaat sebulan sebelumnya, Irak di bawah Saddam Husein memulai perang terbuka melawan Iran.

Berpengalaman pernah menjadi panglima militer, tidak jarang meski sebagai Presiden dia terjun langsung ke medan tempur meracik strategi dan membuat pasukan Saddam kelimpungan dan tidak bisa menundukkan Iran dalam 8 tahun pertempuran. Dalam kegentingan dan krisis menghadapi invasi Irak, dia malah menyerukan dunia untuk membela Palestina, dan meminta bangsa Arab untuk tetap konsisten menolak berdirinya rezim Zionis.

Di saat Imam Khomeini membentuk Dewan Penentu Kebijakan Negara, dia juga yang ditunjuk untuk mengepalai dewan tersebut.

Pasca wafatnya Imam Khomeini, mayoritas Dewan Ahli menunjuknya sebagai pengganti yang menduduki jabatan sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Dari sini, bisa dilihat betapa kenyangnya dia dengan pengalaman politik. Dia berjuang untuk terbentuknya sebuah pemerintahan yang lebih demokratis dan lebih memperjuangkan aspirasi keyakinan yang dianutnya. Dia dipenjara, digunduli, mendapat siksaan bahkan tubuhnya cacat dalam perjuangannya tersebut. Ketika menang, dia menduduki berbagai jabatan, mulai dari eksekutif, legislatif, militer, presiden sampai puncak pimpinan tertinggi.

Baca Juga:  Soal Kesepakatan Nuklir, Khamenei: Iran Butuh Tindakan, Bukan Kata-kata Manis AS

Tidak hanya menduduki jabatan politik tertinggi di Iran, kedudukannya sebagai ulama marja juga menempatkannya pada posisi tertinggi strata keilmuan seorang pelajar agama. Dia memadukan tiga kemampuan, yang tidak dimiliki satupun penguasa di dunia ini, di politik dia pemimpin besar, di agama dia rujukan fatwa, di militer dia panglima langsung pasukan perang yang disegani dunia.

Namanya berkali-kali masuk dalam daftar tokoh besar muslim yang paling berpengaruh di dunia. Sudah 7 Presiden AS mulai dari Jimmy Carter sampai Donald Trump gagal memaksakan kehendak di depannya. Pemimpin dunia manapun yang menemuinya, tidak bisa menghindar dari gestur tubuh yang menunjukkan penghormatan dan keseganan. Usianya sudah 82 tahun, tapi masih getol menunjukkan kegarangannya berpolitik di panggung internasional, sekaligus kemampuannya menyelesaikan perseteruan politik dalam negeri dengan lembut.

Diantara seruannya yang terkenal, “Perlawanan terdasyhat pada musuh negara, adalah memberikan pelayanan pada rakyat….”

(sumber: tafsirhikmah)

Komentar

Berita Lainnya