HomeSosial Budaya

Dua Amanat yang Diemban NU dan Muhammadiyah

Dua Amanat yang Diemban NU dan Muhammadiyah

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Halaqah Kebangsaan NU-Muhammadiyah bertema “Negara Pancasila dan Khilafah” di Ruang Perpustakaan Gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (19/5). 

Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Said Siroj, Halaqah kebangsaan tersebut menghadirkan Sekjen PBNU Helmy Fashal Zaini dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah H Abdul Mu’ti sebagai pembicara.

Pada pembukaan halaqah tersebut, Kiai Said menerima secara simbolis buku “Negara Pancasila sebagai Dar Al-Ahdi Wa Al-Syahadah” dari Sekretaris Umum PP Muhammadiyah H Abdul Mu’ti. Buku yang disusun dari hasil Muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun 2015, rencananya akan disumbangkan untuk Perpustakaan PBNU.

Dalam sambutannya, Kiai Said Aqil Said Siroj mengungkapkan, bahwa NU dan Muhammadiyah mengemban dua amanat yaitu diniyah (agama) dan wathaniyah (kebangsaan).

Baca Juga:  Tokoh Muhammadiyah: Banyak Berita Tentang Iran dan Syiah Tidak Sesuai Fakta

“Amanat diniyah telah diajarkan para ulama, masyayikh, dan pejuang Islam agar kita selalu menjaga, merawat, dan mengembangkan dakwah Islam. Dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan dakwah Islam harus dengan cara mulia dan bermartabat, karena Islam adalah agama yang mulia dan bermartabat,” kata Kiai Said Aqil .

Kiai Said menegaskan tidak benar dakwah Islam dilakukan dengan cara yang keras. Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dakwah dengan akhlakul karimah. 

“Sungguh engkau (Nabi Muhammad) memiliki akhlak yang mulia,” kutip Kiai Said.

Akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah diantaranya dengan mengampuni penduduk Mekah pada tahun 8 Hijiriah saat pihak Rasulullah memasuki kota Mekah dengan kemenangan. 

Baca Juga:  Pilpres 2019, Muhammadiyah: Tiga Tokoh Ini Cocok Jadi Pendamping Jokowi

“Rasulullah memaafkan seluruh penduduk yang tadinya memusuhinya dan umat Islam, . tanpa memaksa mereka harus masuk Islam. Hal ini justru membuat mereka semua masuk Islam,” cerita Kiai Said.

Pada waktu itu, lanjut Kiai Said, Rasulullah berprinsip bahwa semua orang yang semula memusuhinya memiliki akhlak yang mulia.

Sementara itu, dalam wathaniyah, para pendiri bangsa memegang prinsip bahwa Indonesia bukan negara agama, melainkan negara kebangsaan.

“Kesepakatan yang sudah dibangun harus dipertahankan. Karena telah mengeluarkan pengorbanan para pendiri bangsa untuk membangun NKRI,” tegas Kiai Said. (SD)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0