Dul Karim Terdakwa Kejahatan Seksual Pada Anak Tirinya Di Tangerang Divonis 14 Tahun Penjara

Ilustrasi

TANGERANG, SUARADEWAN.com – Dul Karim (DK), terdakwa atas kejahatan seksual kepada anak tirinya di Kec. Cisoka Kabupaten Tangerang, divonis 14 Tahun penjara, denda 60 juta dan subsider 1 bulan pada hari Selasa, 18 Oktober 2017 pukul 14:35 WIB Pengadilan Negeri Tangerang.

Sidang dipimpin oleh Ketua majelis hakim Andrik Ani,SH.,MH, memvonis DK lebih ringan dari tuntuta Jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut terdakwa DK 17 tahun 6 bulan penjara, denda 1 miliyar dan subsider 1 tahun.

Dalam pembacaan putusan kepada DK tersebut, turut hadir semua Rekan LBH Situmeang sebagai kuasa hukum dari korban yang berinisial (SM) yang berumur 15 tahun. Rekan LBH SITUMEANG dalam melakukan pendampingan yaitu Anri Saputra Situmeang,S.H, Bani Irwan,S.H, Yuli Andriyani,S.H, Sutejo Simatupang,S.H, Sutan Fuad Hasan Nasution,S.H, , Daniel Sihombing, Freddy Simanungkalit

“Kami selaku kuasa hukum korban SM mengungkapkan terimakasih kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Milla,S.H telah memperjuangkan klien kami di persidangan sebagai mewakili korban. Dimana JPU menuntut terdakwa DK 17 tahun 6 bulan, denda 1 miliyar dan subsider 1 tahun, walaupun hanya sedikit di sayangkan tidak di masukan tuntutan hukuman kebiri.” kata Anri mengomentari hasil putusan kepada terdakwa DK.

Baca Juga:  Turut Andil Dalam Memajukan Pulau-Pulau Pesisir, LSM Mitra Bentala Serukan Jaga Persatuan Pasca Pemilu

Baca juga:

Meski begitu LBH Situmeang dan rekan menilai vonis hakim belum sepenuhnya memenuhi asas keadilan seperti yang dialami dan diderita korban.

Rekan LBH Situmeang sebagai kuasa hukum dari korban yang berinisial (SM), Anri Stumeang (18/10)

“Kami menghormati vonis kepada terdakwa, akan tetapi, kami berharap dan menyarankan untuk JPU dari Kejaksaan Kabupaten Tangerang untuk melakukan upaya hukum Banding, Alasan kami untuk menyarankan JPU melakukan upaya hukum banding sebagai berikut: Bahwa klien kita mendapat musibah kekerasan seksual yang dilakukan ayah tirinya, bahwa klien kita telah diperlakukan 3 kali oleh ayah tirinya. Bahwa dengan kejadian tersebut klien kita tidak bisa meneruskan pendidikan dikarenakan musibah tersebut. Bahwa klien kita di usir dari rumah diakibatkan karena musibah, seharusnya klien kita diperlakukan untuk diberikan perlindunganakibat musibah tersebut.” kata Anri.

Baca Juga:  4 Napi Kabur Saat Kerusuhan Lapas Jambi, 2 Diantaranya Napi Narkoba

Lanjut, Anri Saputra Situmeang,S.H tidak ada bosan-bosan nya meminta kepada kepala daerah dan DPRD Kabupaten Tangerang untuk secara cepat untuk membuat Peraturan Daerah (PERDA) terkait Perlindungan Anak secara eksplisit karena kasus kekerasan seksual kepada anak di kabupaten Tangerang.

“bukan hanya klien kami doang yang mendapat musibah seperti itu, dan tidak terlepas dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tangerang harus memberikan terbaik khususnya kepada anak untuk respon cepat ketika ada problem kekerasan fisik maupun psikis dan harus mengutamakan pencegahan.” tutup Anri. (alh)

Tinggalkan Balasan

banner 728x90