HomeProfil

Dwiarso Budi Santiarto dan Ketegasan Tanpa Ragu

Dwiarso Budi Santiarto dan Ketegasan Tanpa Ragu

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Siapa yang tak kenal Dwiarso Budi Santiarto? Sosok Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut)—dilantik pada 22 Agustus 2014—ini santer jadi perbincangan hangat terutama pasca dirinya menjadi pemutus satu-satunya dalam kasus penistaan agama yang melibatkan Basuki Tjahaja Purnama sebagai terpidana.

Ya, sang hakim yang akrab disapa Inoenk ini memang dikenal sebagai hakim yang punya intigritas tinggi, sebuah ketegasan tanpa ragu. Hal ini bisa kita lihat dari sejumlah pengalamannya dalam menangani pelbagai kasus hukum di Indonesia.

Lahir di Surabaya, 14 Maret 1963, bukan menjadi dasar mengapa Inoenk dijuluki rekan sejawatnya sebagai bondo nekat (bonek). Julukan tersebut lebih diarahkan, yang lagi-lagi, karena sikap tegasnya tanpa pandang bulu.

Anti-suap, anti-gertak, begitulah Inoenk dikenal selama ini.

Suami dari Yanti, yang juga merupakan teman kuliahnya, kini dikaruniai dua anak putra-putri. Putranya, Rio yang menempuh pendidikan S-1 di ITB dan S-2 di UI saat ini berada di Jepang, bekerja sebagai pelayan toko.

Putrinya, Anya, mengikuti jejak ayahnya kuliah di fakultas hukum Unpar. Saat ini bekerja sebagai pegawai pajak di Palangka Raya.

Ada kisah menggelitik dari putra-putrinya. Tempo hari, ketika ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar ditangkap karena terbukti melakukan suap, kedua anaknya dengan keinginan yang sama agar ayahnya berhenti menjalani profesi sebagai hakim, karena merasa malu.

Bahkan, keseriusan itu dibuktikan dengan kesiapannya untuk menggantikan ayahnya mencari nafkah untuk keluarga.

Inoenk, jebolan S1 Ilmu Hukum Universitas Airlangga dan S2 Universitas Gajah Mada ini memulai profesinya sebagai sang hakim di Pengadilan Negeri Kotabumi sebagai ketua. Ia juga pernah menjabat di profesi yang sama di Kraksan, Depok, Semarang, Banjarmasin, hingga kini menjadi Ketua Majelis Hakim di PN Jakut.

Ketegasan dan integritasnya dalam memutus perkara salah satunya ia buktikan saat menjadi hakim di Pengadilan Jakarta Pusat. Dalam perkara kasus korupsi BLBI, ia memutus hukuman seumur hidup untuk para koruptor.

Jejak lain saat bertugas di Semarang, Inoenk juga memutus sengketa Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melawan pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra dengan menghukum hakim temannya sendiri dalam kasus penyuapan.

Dari kasus ini, Inoenk selaku pimpinan di PN Semarang mengabulkan gugatan perdata PT Indo Perkasa Usahatama (PT IPU) selaku pihak penggugat. Ganjar dinyatakan bersalah melakukan perbuatan melawan hukum dalam penerbitan sertifikat Hak Pengolahan Lahan (PHL) di atas lahan seluas 237 hektar di Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah.

Beberapa koruptor serta pejabat Karanganyar bahkan terlibat di dalamnya. Salah satunya adalah mantan Bupati Karanganyar Rina Iriani yang diputus bersalah dalam kasus korupsi penyalahgunaan bantuan subsidi perumahan dari Kementerian Perumahan Rakyat kepada Koperasi Serba Usaha (KSU) Kabupaten Karanganyar pada 2007-2008 dan tindak pidana pencucian uang.

Oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) Marsekal Sarwata, Inoenk merupakan salah satu hakim kebanggaan negeri ini. Keberaniannya dalam memutus perkara yang berdasar dan rasional, sehingga dalam kasus penistaan agama Ahok, Ketua MA menggantungkan harapan putusan seadil-adilnya kepada hakim Inoenk, terlepas dari tekanan dan intervensi para massa aksi.

Diakui pula oleh Humas PN Jakut Hasoloan Sianturi bahwa hakim Dwiarso Budi Santiarto adalah pimpinan yang punya kredibilitas mumpuni. Maka tak salah ketika Ketua MA menempatkannya di Kelas 1a Khusus.

“Tentu kalau menjadi ketua di sini (PN Jakut) sudah pasti bagus. Sehingga pimpinan (pihak MA) menempatkan beliau (Dwiarso) di Kelas 1a Khusus,” ujar Hasoloan di awal sidang kasus Ahok yang pada Desember tahun lalu.

Inoenk memang baru menjabat sebagai Ketua PN Jakut selama 6 bulan. Tetapi karena pengalamannya yang sudah-sudah itu, melanglang buana sebagai sang hakim, kewajiban besar itu dirasa tepat jika dirinya yang menampuk. Dan hasilnya, salah satu bisa kita lihat dari divonisnya Ahok dan langsung memenjarakannya selama 2 tahun kurungan.

Sebuah ketegasan tanpa ragu, kiranya begitulah yang bisa kita simak dari sosok sang hakim bernama Dwiarso Budi Santiarto ini. (ms)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0