HomeHankam

Edan, Mantan Menteri SBY Jadi Pengusung Khilafah

Edan, Mantan Menteri SBY Jadi Pengusung Khilafah

JAKARTA, SUARADEWAN.com –  Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dalam kabinet Indonesia bersatu Jilid I (2004–2009), Adhyaksa Dault, ternyata adalah pendukung dan pengusung gerakan khilafah untuk diterapkan di Indonesia.

Hal itu terlihat dari bukti kehadiran mantan menteri era Preiden Susilo Bambang Yudhoyono itu dalam Muktamar organisasi politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Dalam video wawancara Adhyaksa dengan wartawan HTI yang didapatkan suaradewan.com, dosen Fakultas Perikanan UNDIP Semarang itu mengatakan, alasan kehadirannya dalam agenda HTI itu adalah karena sesuatu yang dia klaim sebagai hadis Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, Nabi sudah jelas mengatakan bahwa khilafah niscaya akan terwujud di muka bumi ini. Dengan berbekal keyakninan itulah, dia kemudian hadir dan mendukung organisasi yang berpusat di Kerajaan Inggris itu.

Baca Juga:  Aliansi Bela Garuda Serukan Pemberhentian Adhyaksa Dault

“Kalau ada orang yang mengatakan Khilafah itu utopis, itu orang gila, menurut saya,” kata Adhyaksa dalam muktamar HTI 2013 lalu di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Adhyaksa meyakini bahwa khilafah adalah tanda-tanda kenabian Muhammad SAW. Sehingga dengan atau tanpa bantuan mereka, khilafah pasti akan berdiri.

“Tanpa atau peran kita khilafah pasti berdiri. Cuman bagaimana kita ikut dalam proses itu,” tuturnya dengan percaya diri.

Namun, menurut Adhyaksa, bentuk dukungan untuk menegakkan khilafah itu bisa bermacam-macam, tergantung orangnya. Hanya saja niat yang tertanam dalam hati mereka jelas adalah satu.

Saat ditanya mengenai tema muktamar “Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah”, Adhyaksa menjawab, bahwa perubahan besar tidak bisa dilakukan jika hanya dalam lingkup yang kecil, ibarat tulang Ikan.

Baca Juga:  Kelimpungan Dana Pramuka Dibekukan Pemerintah, Adhyaksa Dault Nyatakan Siap Klarifikasi ke Menpora Sebagai Bukan Pendukung HTI

“Ada teori tulang utama Ikan. Kalau tulang utama Ikan tidak berubah, itu tulang-tulang kecilnya ngga berubah. Jadi tulang utamanya harus dirubah,” jelas Adhyaksa.

Dia mencontohkan Bank-Bank dunia sekarang ini sedang bergerak mencari cara menyelamatkan perekonomian liberalisme. Dan salah satu cara yang digunakan adalah dengan memberikan stempel syariah pada produk perbankan.

“Semua sekarang pakai syariah. Di Indonesia saja banyak yang pakai syariah sekarang. Tidak bisa dicegah InsyaAllah,” tukasnya.

Saat ditanya mengenai persetujuan dan dukungannya terhadap gerakan Hizbut Tahrir, Adhyaksa dengan tegas menyatakan setuju.

“Oy ya setuju. Gimana tidak setuju. Kalau ngga setuju saya ngga kesini,” ungkapnya dengan sumringah (ZA).

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0