HomeDaerahPulau Jawa

FKAM dan Takmir Masjid Se-DIY Minta Umat Islam Sikapi Perbedaan Dengan Toleransi

FKAM dan Takmir Masjid Se-DIY Minta Umat Islam Sikapi Perbedaan Dengan Toleransi

YOGYAKARTA, SUARADEWAN.com – Menantikan hadirnya Ramadan 1443 Hijriah, Bulan Suci bagi Umat Islam, DPW FKAM DIY (Dewan Pimpinan Wilayah Forum Komunikasi Aktivis Masjid Daerah Istimewa Yogyakarta) menggelar Silaturahmi dan Sarasehan dengan tema ‘Tumbuhkan Toleransi, Bentengi Diri Dari Provokasi’ di Hotel Tjokro Style Jalan Menteri Supeno Nomor 48, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta, Jumat (25/3/2022) malam.

Sarasehan menghadirkan narasumber Dr. H. Halili, S.Ag., M.Si selaku Analis Kebijakan Ahli Muda pada Seksi Kemasjidan, Hisab Rukyat, dan Bina Syariah Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag DIY (Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta), dan AKBP Drs. Sugianto Nurjatno Putro, Apt. selaku KBO Dit Binmas Polda (Kepolisian Daerah) DIY.

DPW FKAM DIY mengadakan Silaturahmi dan Sarasehan mengangkat tema ‘Tumbuhkan Toleransi, Bentengi Diri Dari Provokasi’

Mendukung Program GBM (Gerakan Bersihkan Masjid), dalam kesempatan ini secara simbolis diserahkan sebanyak 79 Paket Bantuan dari Polda DIY berupa hand sanitizer, cairan pembersih lantai, dan banner toleransi yang berisi ucapan selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadan 1443 H dan imbauan bagi masyarakat untuk selalu menjaga dan merawat toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Rahmat Budiyanto, S.Pd selaku Ketua DPW FKAM DIY mengajak sebanyak 50-an takmir masjid dari 5 kabupaten dan kota se-DIY dan segenap Relawan FKAM yang hadir untuk ikut berperan aktif dalam membangun opini dan wacana tentang indahnya kerukunan dan  toleransi antar umat beragama di masyarakat, dengan jalan menyikapi semua perbedaan yang ada secara dewasa dan bijaksana.

Supaya tercipta situasi yang kondusif, aman, nyaman, dan khusyuk sebelum, selama, dan sesudah bulan puasa.

DPW FKAM DIY mengadakan Silaturahmi dan Sarasehan mengangkat tema ‘Tumbuhkan Toleransi, Bentengi Diri Dari Provokasi’

Sehingga dapat meminimalisir terjadinya konflik horizontal di masyarakat, baik itu konflik eksternal (antar umat beragama) maupun konflik internal (antar umat seagama) yang dapat merapuhkan sendi-sendi kehidupan bangsa dan merongrong keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Baca Juga:  Program Doktor Politik Islam - Ilmu Politik UMY Raih Akreditasi Unggul Pertama

Menurut Rahmat, kegiatan ini merupakan rangkaian menyambut bulan Ramadan yang diisi dengan Program GBM dan Sarasehan untuk menjalin Ukhuwah Islamiyah yaitu membangun persaudaraan melalui silaturahmi.

“Terutama untuk meredam isu-isu yang terjadi selama beberapa bulan terakhir. Seperti polemik suara adzan, lalu logo halal yang dikeluarkan oleh BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) Kemenag RI, kemudian sosialisasi SE Menag RI (Surat Edaran Menteri Agama RI) terkait penggunaan toa (pengeras suara) masjid, dan dikeluarkannya fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) terkait pelaksanaan ibadah di saat Pandemi COVID-19 (Corona Virus Desease 2019), yang mengijinkan umat islam melakukan aktifitas keagamaan di Bulan Ramadan dan perlunya pengawasan agar tetep menerapkan Prokes (Protokol Kesehatan) secara disiplin,” ujarnya.

Rahmat menuturkan, menjelang Bulan Suci Ramadan, umat Islam akan lebih sering mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah. Salah satu peran penting FKAM adalah untuk mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya membangung peradaban yang adil dan bertoleransi.

“Sehingga, muncul kesamaan pandangan dan pemahaman yang lurus dan benar dari semua pihak, baik pemerintah, dan masyarakat terkait masalah keadilan dan toleransi,” ungkapnya.

Rahmat menegaskan bahwa FKAM akan ikut berperan aktif dalam membangun opini di masyarakat agar situasi tetap kondusif seiring dengan maraknya isu-isu provokatif yang berdampak pada terganggunya stabilitas situasi Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat).

“Semoga dengan sarasehan ini kita bisa mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan beragama dan terjaga dari propaganda yang akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” ucapnya.

Menyikapi polemik SE Menag RI yang mengatur tentang penggunaan toa masjid, Rahmat menjelaskan bahwa FKAM menanggapi regulasi ini secara positif dan melihatnya dari azas kemanfaatan.

Baca Juga:  Daftar Tempat Wisata di Jogja yang Estetik dan Mudah Ditemukan

“SE Menag RI tentang aturan toa masjid tidak membatasi syiar Islam seperti adzan misalnya. Dalam hal ini kami kembalikan lagi kepada masing-masing takmir masjid untuk mengatur volume toa dan penggunaannya secara proporsional,” imbuhnya.

Selanjutnya, AKBP Sugianto menyampaikan bahwa negara mengakui 6 agama yang bisa menjalankan ibadah dan berkembang di Indonesia. Kaum Muslimin sebagai mayoritas hendaknya bisa selalu menjaga Ukhuwah Islamiyah dan menjauhi perbuatan intoleransi.

“Segala bentuk paham dan tindakan Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme berpotensi menimbulkan perpecahan dan kerukunan umat, maka harus diantisipsi dengan edukasi dan sosialisasi tentang bahayanya kepada masyarakat,” katanya.

AKBP Sugianto mengucapkan terimakasih kepada FKAM dan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengedukasi masyarakat supaya lebih menumbuhkan jiwa toleransi ini.

“Mari kita merawat keberagaman dalam masyarakat dan memupuk toleransi antar umat beragama untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Mari jadikan diri kita bersih dari nilai-nilai yang merugikan orang lain,” tuturnya.

Sementara itu, Halili menjelaskan bahwa untuk meredam konflik antar umat beragama, juga antar umat Islam sendiri, bisa dilakukan dengan tabayun (verifikasi) dan memperbanyak silaturahmi.

“Bentengi diri dari provokasi dan jangan mudah percaya dan termakan hoaks (berita bohong), apalagi sampai ikut menyebarkannya sebelum mendapatkan klarifikasi dari pihak-pihak yang berkompeten,” terangnya.

Halili mengimbau kepada kaum muslimin agar tidak hanyut dalam seruan provokatif yang akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, terlebih antar umat beragama.

“Kaum muslimin hendaknya saling menghormati perbedaan yang muncul dalam berbagai fiqih (pemahaman) ibadah,” jelasnya.

Asalkan, kata Halili, semua berdasarkan dalil Islam yang benar, jangan taklid buta (mutlak dan membabi buta bertentangan dengan Alquran dan Hadis) dan fanatik terhadap golongannya sendiri.

“Akhir-akhir ini banyak sekali isu-isu provokatif yang mengarahkan kita kepada perpecahan yang berpotensi mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, marilah kita rapatkan barisan, kita satukan tekad, dan luruskan perbedaan apapun itu bentuknya,” ajaknya. (sd/red)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0