Gedung MPR/DPR, Dulu Dibangun untuk Menyaingi PBB

SUARADEWAN.com – Berdirinya Gedung MPR/DPR tak lepas dari kepemimpinan Ir. Soekarno. Presiden pertama RI dan proklamator itulah yang mengesahkan rencana pembangunannya lewat Surat Keputusan Presiden RI No. 48 Tahun 1965.

Awalnya Ir. Soekarno merencanakan gedung tersebut bukan sebagai Gedung MPR/DPR. Pembangunan gedung rancangan Soejoedi Wirjoatmodjo tersebut bertujuan sebagai tempat penyelenggaraan Conference of the Emerging Force (CONEFO). CONEFO didirikan oleh Soekarno sebagai organisasi multilateral tandingan PBB.

Pembangunan gedung beratap kubah ikonik itu sempat terhenti lantaran huru-hara G30S yang mengubah perjalanan kekuasaan. Pada tahun 1966, pemerintah yang baru menghentikan pembangunan cikal bakal Gedung MPR/DPR tersebut.

Presiden Orde Baru, Soeharto, kemudian melanjutkan kembali pembangunannya. Melalui Surat Keputusan Presidium Kabinet Ampera No. 79/U/Kep/11/1966 tanggal 9 November 1966, Soeharto mengubah peruntukan bangunan tersebut menjadi Gedung MPR/DPR RI.

Baca Juga:  Usulan KPK Dibekukan Ramai Dibantah Oleh Fraksi Di DPR

Komplek Gedung MPR/DPR RI terdiri dari beberapa bangunan. Pertama, Gedung Nusantara, dengan kubah berbentuk laksana sayap burung yang hendak terbang. Kedua, Gedung Nusantara I dengan tinggi 100 meter dan memiliki 24 lantai.

Ketiga, Gedung Nusantara II, Gedung Nusantara III, Gedung Nusantara IV, Gedung Nusantara V. Selanjutnya Gedung Bharana Graha, Gedung Sekretariat Jenderal MPR/DPR/DPD. Gedung Mekanik, dan Masjid Baiturrahman juga melengkapi kompleks parlementaria tersebut.

Selain bangunan yang megah dan artistik, kompleks Gedung MPR/DPR juga mempunyai sebuah patung elemen estetik yang terletak di tengah air mancur. Tidak jauh dari formasi tersebut, berbaris 35 tiang berbendera merah putih.

Baca Juga:  Negara Surga Pajak Ini Lakukan Reklamasi Demi Sediakan Lahan Untuk Miliarder

Patung elemen estetik sebenarnya berbentuk tiga bulatan yang saling terhubung. Bahan pembuatnya adalah konstruksi rangka besi dengan lapisan lembaran tembaga yang ditanamkan pada pondasi beton. Patung tersebut adalah rancangan Drs. But Mochtar dari Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung pada tahun 1977, untuk menggambarkan sinergi antara anggota-anggota parlemen yang bertugas.

Titik pandang utama dari komplek gedung parlementaria ini, selain kubah ikonik dan patung elemen estetik, ada dua lagi. Pertama, gedung dengan tulisan yang besar dan menonjol “Majelis Permusyawaratan Rakyat”, “Dewan Perwakilan Rakyat”, dan “Dewan Perwakilan Rakyat Daerah”. Kedua, tangga yang cukup panjang, lebar, dan tinggi menuju Gedung Nusantara. ***

 

Tinggalkan Balasan

banner 728x90