Geger Santet Banyuwangi 98, Usaha Memecah Belah Warga NU

Geger Santet Banyuwangi termasuk 1 dari 12 peristiwa pelanggaran HAM berat. Peristiwa tersebut sempat diangkat dalam sebuah film di tahun yang sama. (Foto: Istimewa)

SUARADEWAN.com – Tragedi pembunuhan dukun santet selama 1998-1999 atau yang disebut sebagai “Geger Santet Banyuwangi” diakui oleh Presiden Jokowi sebagai salah satu dari 12 peristiwa pelanggaran HAM berat.

Tragedi Geger Santet Banyuwangi ini berawal dari upaya pendataan orang-orang yang memiliki daya magis atau dukun oleh bupati Banyuwangi saat itu.

Pendataan yang dimaksudkan untuk melindungi orang-orang khusus tersebut dimaksudkan untuk melindungi mereka dari pembunuhan, seperti terjadi pada tahun 1991 dan 1996.

Naasnya, justru terjadi kebocoran data dalam upaya tersebut. Data tersebut kemudian digunakan oleh sekelompok orang untuk melancarkan penyapuan.

Kelompok pembunuh yang mempunyai ciri khas berpakaian ninja tersebut menyisir para korban yang diduga dukun, melakukan kekerasan, dan pembunuhan.

Ketakutan yang semula mengancam penduduk Banyuwangi tersebut kemudian meyebar ke daerah sekitarnya membentuk daerah tapal kuda. Ketakutan tersebut pun tidak hanya menimpa orang-orang yang notabene dukun, tetapi juga santri dan kyai.

Beberapa pembunuhan juga dilakukan beramai-ramai oleh warga setempat. Salah satu saksi, Abdullah, penduduk Desa Sukojati, menyaksikan sendiri kakaknya yang bernama Arifin bersama istri dan anaknya disiksa hingga meninggal oleh sekelompok warga.

“Mereka dijemput massa. Massa itu bukan orang jauh, warga sini saja. Saya juga tahu meninggalnya. Istrinya diseret, di depan warung ini dari selatan. Kakak saya, Arifin, dituduh punya ilmu santet,” cerita Abdullah.

Abdullah juga mengatakan warga membawa pisau, batu, dan kayu. Kelompok warga tersebut menghantam kepala istri Arifin dengan batu kemudian menyeretnya. “[kulitnya] mengelupas seperti serpihan pinang,” lanjut Abdullah.

Abdullah kemudian memandikan ketiga jenazah tersebut dan memakamkannya berjajar.

Sebanyak 85 orang meninggal dalam tragedi tersebut, 3 orang luka berat, dan 7 luka ringan. Polisi kemudian mengevakuasi 227 orang yang diduga dukun santet.

Pemberitaan tentang pembunuhan berantai oleh para “Ninja” ini kemudian menyebar hingga ke luar negeri. Dan menjadi obyek penelitian Jason Brown yang terbit dengan judul “Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian”.

Dalam penelitian tersebut Jason Brown menjelaskan bahwa pembunuhan para dukun telah terjadi beberapa kali dan dianggap biasa. Bahkan dalam suatu pembunuhan, masyarakat setempat bersikap biasa saja dan memahami bahwa yang terbunuh adalah dukun santet.

Karena itulah kemudian bupati Banyuwangi berusaha mengumpulkan data guna melindungi mereka yang dikenal sebagai dukun, orang pintar, maupun kyai.

Dalam rantai pembunuhan Geger Santet Banyuwangi,
Seorang tokoh NU, Afton Ilman Huda, mengatakan perilaku santet sangat dekat dengan keseharian suku setempat, meski pemahaman masing-masing orang akan berbeda. Contohnya dalam hal percintaan.

“Ada orang seneng dengan perempuan. Bagaimana caranya perempuan itu seneng. Begitu-begitu itu biasanya upayanya ke dukun-dukun. Untuk meng-counter yang seperti itu datang ke kiai-kiai. Perilaku kiai yang semula menolong santet, ini kemudian menjadi terancam dengan isu ini,” kata Afton Ilman Huda.

Sedangkan Hasan Ali, seorang penggiat budaya Banyuwangi, mengatakan bahwa warga setempat yang merupakan suku “Using” biasa berkonsultasi dengan orang pintar atau dukun hanya untuk keperluan pindah rumah, panen, khitanan, membangun rumah, dan sebagainya.

Tetapi, mengapa justru masyarakat menyerang apa yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka?

Saat penganiayaan KH Ahmad Asmuni Ishaq di Lumajang dilakukan oleh sekelompok “Ninja” dengan modus yang sama dengan yang terjadi di Banyuwangi, Gus Dur mengatakan peristiwa berkaitan dengan Pemilu.

“Tujuannya, menggagalkan Pemilu 2004,” kata Gus Dur saat itu.

Jika dicermati dalam skala yang lebih besar, kejadian Geger Santet Banyuwangi 1998 mirip dengan kejadian di Tasikmalaya dan Situbondo menjelang Pemilu 1997. Kedua peristiwa tersebut dikenal sebagai “Operasi Naga Hijau”.

“Operasi Naga Hijau” mula-mula dikemukakan dalam keterangan KH Hasyim Muzadi, Ketua PWNU Jatim saat itu.

“Kami telah menemukan lima pancingan yang disebut Operasi Naga Hijau yang berusaha mengaduk-aduk warga NU di Jatim,” tutur KH Hasyim Muzadi.

Sedangkan sebuah disertasi di Universitas Airlangga, Sukidin mengemukakan ada 4 motif pembunuhan dalam Geger Santet Banyuwangi.

Yakni motif dendam sosial, motif iri hati dan fitnah, motif modus massa terorganisir, dan modus pembunuhan massa spontan.

“Pembunuhan terhadap korban yang bermotifkan dendam yang dirasakan oleh masyarakat ini selalu terjadi pada orang yang diduga sebagai dukun santet. Terlepas apakah korban pembunuhan tersebut menemui kematian atau masih hidup, yang jelas motif ini hampir semuanya terjadi pada dukun santet,” tulis Sukidin dalam laporannya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90