HomeSosial Budaya

Geprindo Perlebar Pembelahan Masyarakat Pribumi dan Non-Pribumi

Geprindo Perlebar Pembelahan Masyarakat Pribumi dan Non-Pribumi

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) semakin menegaskan pembelahan masyarakat Indonesia menjadi pribumi dan non-pribumi.

Hal itu terlihat diantaranya dari pernyataan Ketua Geprindo, Bastian P. Simanjuntak, yang menyatakan secara khusus kelompok etnis minoritas China yang menurutnya sudah besar kepala. Bastian merujuk pada kejadian penghinaan yang dilakukan keturunan etnis China Steven pada Gubernur NTB beberapa waktu lalu.

Meskipun penghinaan itu dilakukan Steven dalam kapasitasnya sebagai pribadi, namun Gaperindo menganggapnya sebagai sikap merata dari entis China lain di Indonesia.

“GEPRINDO mengingatkan etnis china jangan memancing konflik massal. Selama ini pribumi sudah sangat bersabar dan menghormati etnis minoritas, karenanya arogansi Steven walaupun hanya oknum namun dapat merepresentatifkan china lain di Indonesia,” beber Bastian dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (17/4).

Bastian mengajak masyarakat yang disebutnya sebagai pribumi untuk bersatu dan merapatkan barisan supaya tidak kalah dan tersingkir di negeri sendiri.

“Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi pribumi agar segera merapatkan barisan, jangan sampai pribumi tersingkir dinegerinya sendiri,” tukasnya.

Sebelumnya, Steven mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas pada Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi, saat berada di Bandara Changi Indonesia. Pernyataan tersebut menyinggung hati Gubernur Muhammad dan kemudian dia melaporkannya ke pihak berwenang di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Setelah diproses, lelaki entis China yang bernama lengkap Steven Hadisurya Sulistyo itu mengakui kekeliruan perbuatannya. Dia lalu meminta maaf pada Gubernur NTB melalui surat permohonan maaf diatas materiai, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

“Saya telah menyadari bahwa kata-kata saya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila dan UUD 1954. Saya tidak akan mengucapkan lagi kata-kata yang dapat menimbulkan keretakan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia,” demikian tulis Steven. (ZA)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: