HomeEkonomi

GIMNI: 20 Persen Minyak Goreng di Pasar adalah Jelantah

Ilustrasi

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menuturkan, sekitar 18 persen hingga 20 persen dari 3,56 juta ton minyak goreng yang beredar di pasar pada 2016 lalu adalah minyak goreng bekas pakai atau jelantah.

Minyak ini diambil dari bekas penggorengan di hotel-hotel, warung besar, dan restoran cepat saji. Dan sebagian besarnya masuk ke minyak curah, baik dengan cara dicampur maupun tidak.

Menurut Sahat, selain peredaran minyak goreng jelantah ini yang bisa mengancam kesehatan masyarakat seperti menimbulkan penyakit parkonson dan stroke, kondisi ini juga merugikan pelaku usaha minyak goreng murni dari industri yang masih asli.

Mempertimbangkan kondisi itu, GIMNI kemudian mendesak pemerintah untuk mengeluarkan aturan main yang mengatur peredaran minyak bekas ini.

Adapun mengenai kenaikan harga minyak goreng curah di pasaran, Sahat membantah kalau hal itu akibat ulah para pengusaha. Sebab, menurutnya, sejauh ini produsen sudah menjual minyak goreng curah sesuai dengan instruksi dari Kementerian Perdagangan.

“Tapi kalau di pasar harga masih tinggi, itu sudah di luar kontrol kami, harusnya pemerintah meningkatkan pengawasan,” tukas Sahat.

Sahat menambahkan, jika pemerintah benar serius ingin menurunkan harga salah satu kebutuhan pokok di dapur itu, pemerintah semestinya tidak memungut PPN sebesar 10 persen dari setiap penjualan. Sebab, PPN itu juga berkontribusi dalam menyebabkan kenaikan harga. (ZA)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: