HomePolitik

Halaqoh Kebangsaan NU-Muhammadiyah, Abdul Muth’i: Khilafah Ide yang Dilematis

Halaqoh Kebangsaan NU-Muhammadiyah, Abdul Muth’i: Khilafah Ide yang Dilematis

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muhamadiyah Dr. H. Abdul Mufthi menegaskan bahwa ide khilafah yang berusaha dicanangkan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan ide yang sangat dilematis.

Hal tersebut disampaikan dalam Serial Halaqoh Kebangsaan Nahdlatul Ulama – Muhammadiyah bertajuk “Negara Pancasila dan Khilafah”, yang diselenggarakan di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Abdul Muth’i yang hadir sebagai pembicara, berusaha membangun sebuah wacana tentang bagaimana NU dan Muhammadiyah harus melangkah dan membangun Indonesia, serta bersama-sama memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berikut pilar Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Apa yang bisa kita (NU-Muhammadiyah) lakukan dalam rangka membangun dan memperteguh NKRI?” tanyanya sebelum memberi keterangan lebih lanjut.

Baginya, kemunculan ide khilafah yang diusung oleh HTI di Indoensia harus dilihat ke dalam dua konteks, yakni konteks globalisasi dan konteks Indonesia sebagai Negara Pancasila.

Baca Juga:  Siap Bubarkan HTI, Jaksa Agung: Ya, Khilafah Anti Pancasila

“HTI itu memang satu bentuk gerakan transnasional, dan masuk ke Indonesia sebagai konsekuensi globalisasi, yang memang menjadi bagian dari ciri abad 21,” terangnya.

Dalam konteks networking (jejaring), tambahnya, maka hubungan Indonesia dengan Timur Tengah sudah bisa kita maklumi mengapa banyak sekali paham-paham dari Timur Tengah dengan mudah bisa masuk ke Indonesia. Menurutnya, ini disebabkan oleh sejumlah alasan yang bisa ditelaah pembenarannya dalam sejarah.

“Bahwa Timur Tengah masih dianggap sebagai kiblat umat Islam dunia. Pemikiran-pemikiran yang berkembang di sana hampir seluruhnya memiliki jejaring di Indonesia,” ungkapnya kembali.

Dilihat secara historis, memang ada kedekatan yang sangat kuat, terutama Indonesia dengan Arab Saudi, Indonesia dengan Mesir, termasuk pula Indonesia dengan Palestina.

Baca Juga:  Polda DIY Larang Pawai HTI

“Kedekatan historis itu punya implikasi kepada ikatan yang bersifat emosional. Sehingga konflik yang terjadi di Timur Tengah kemudian dengan mudah mendapat resonansinya di Tanah Air meski dalam bentuknya yang sangat berbeda,” lanjutnya.

Adapun faktor lainnya, yakni kondisi generasi muda di Indonesia saat paham mulai tersebar. “HTI tumbuh di kalangan generasi muda yang punya idealisme tinggi mengenai negaranya dan melihat negara ini harus diberikan jalan keluar. Sehingga khilafah itu menjadi mudah diterima,” pungkasnya.

Terlepas dari itu, inti yang ingin disampaikan oleh Abdul Muth’i adalah bagaimana sikap NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia mampu meredam ini. Pancasila, sebagai dasar negara, harus mampu ditelaah secara dialogis dengan gagasan dari kelompok tertentu yang anti-Pancasila. (ms)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0