HomeSosial Budaya

Imam Besar Masjid Istiqlal: Mari Merayakan Perbedaan, Jangan Meratapinya

Imam Besar Masjid Istiqlal: Mari Merayakan Perbedaan, Jangan Meratapinya

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Mari merayakan perbedaan, jangan meratapinya. Begitu inti pesan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nazarudin Umar, dalam dialog tokoh lintas agama di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. (16/6/2017).

Nazaruddin Umar mengingatkan, setiap manusia bersaudara, tanpa melihat agama yang dianut. Setiap orang yang beriman, kata dia, bersaudara.

“Karena Allah tidak pernah membeda-bedakan satu rasul dengan rasul lain,” kata Nazarudin dalam Dialog Budaya: Agama dan Kebhinekaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat 16 Juni 2017.

Kitab Alquran, tegas dan luar biasa pengakuannya terhadap agama selain Islam. Jika ada yang ingin menafikan adanya perbedaan agama, kata dia, maka sesungguhnya tidak sejalan dengan apa yang diajarkan Alquran.

Baca Juga:  Imam Besar Istiqlal: Tak Ada Alasan Untuk Melarang Menshalati Jenazah Muslim

“Allah sendiri menyebut, lakum dinukum waliyadin. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Luar biasa,” ungkap Nazaruddin.

Ajaran perbedaan, menurut Nazaruddin, sudah ada sejak zaman Nabi. Ia mencontohkan, bagaimana sikap Nabi Muhammad terhadap orang-orang yang berbeda agama.

Nazaruddin bercerita soal Nabi prihatin ada satu rumah ibadah (non Muslim) yang pembangunannya tidak kunjung selesai. Nabi kemudian memerintahkan sahabat untuk bantu pembangunan rumah ibadah itu. “Tapi ambil dari uang hibah, jangan dari uang wakaf atau zakat,” ucapnya.

Bukan cuma lewat lisan. Nabi juga memerintahkan dalam bentuk surat untuk membantu pembangunan rumah ibadah warga non Muslim. “Sesungguhnya aspek kemanusiaan Nabi luar biasa. Cara Nabi menghampiri orang yang berbeda dengannya sangat kemanusiaaan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Mengapa Kita Wajib Mandi Junub Usai Berhubungan Intim? Ini Ulasannya

Nazaruddin bilang, siapapun anak cucu Nabi Adam, apapun agamanya, selama ia manusia, maka wajib dimanusiakan. Jangankan manusia, mayat saja, kata Nazaruddin, wajib hukumnya untuk diurus dan dimanusiakan.

Kalau ada silang pendapat, dialog dan diskusi adalah cara terbaik. Islam juga menganjurkan umat untuk melakukan dialog dengan siapapun tanpa tebang pilih, namun tetap santun. “Tidak pernah Islam menganjurkan dengan kekerasan atau kekurang-ajaran,” ucap Nasaruddin. (NDH)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: