HomeHukum dan HAM

Ini Penjelasan Polri Soal Foto Kapolda Metro Jaya Duduk Satu Meja dengan Pembacok Herman

Ini Penjelasan Polri Soal Foto Kapolda Metro Jaya Duduk Satu Meja dengan Pembacok Herman

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Di media sosial sempat viral foto yang memperlihatkan Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan dan Kapolresta Depok Kombes Herry Heryawan duduk satu meja dengan dua orang pengeroyok dan pembacok ahli IT ITB Hermansyah yang belum lama ditangkap.

Pemandangan dalam foto tersebut menurut sebagian pihak dinilai sebagai hal yang tidak etis, apalagi belakangan ini muncul isu bahwa pembacokan terhadap Hermansyah itu adalah rekayasa Polisi karena yang bersangkutan sempat menjadi saksi ahli IT dalam kasus dugaan chat mesum Imam Besar FPI Rizieq Shihab dan Firza Husein.

Baca Juga:  Begini Tanggapan Polisi Soal Rizieq Mengadu ke Komisi HAM PBB

Dengan beredarnya foto tersebut, sebagian pihak itu semakin mencurigai ada motif tertentu dibalik pembacokan Hermawan yang lebih dari sekedar akibat pertengkaran karena senggolan kendaraan di tol Jagorawi, Jakarta.

Namun tudingan miring tersebut dibantah oleh Polri. Menurut Polri tindakan Kapolda Metro Jaya dan Kapolresta Depok yang duduk satu meja dengan tersangka pembacokan Herman itu adalah hal yang biasa saja dan bukan bentuk perlakuan intimewa terhadap mereka.

“Hal ini suatu yang biasa, bahkan kadang-kadang seorang pimpinan di suatu kesatuan tersebut itu ikut di dalam sel untuk berbicara kepada mereka yang dianggap memiliki informasi penting yang tidak mau dikeluarkan ke penyidik,” kata Kabag Penindakan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Martinus Sitompul, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (12/7).

Baca Juga:  Habib Rizieq Panggil Tim Advokasinya ke Arab Saudi

Menurut Martinus, tindakan pimpinan Polri menemui hingga terkesan beramah tamah misalnya dengan mengajak makan tersangka pidana di dalam markas Polisi adalah bagian teknik pendekatan humanis kepolisian untuk mendapatkan informasi tersembunyi.

“Itu hal yang biasa dilakukan oleh pimpinan Polri, para kepala kesatuan. Itu biasa sekali. Biasa, bukan hal yang tabu, bukan perlakuan istimewa,” jelas Martinus. (za)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0