HomeProfil

Inspiratif! Demi Tegaknya Hukum, Dua Jenderal Ini Rela Tak Lindungi Anaknya

Inspiratif! Demi Tegaknya Hukum, Dua Jenderal Ini Rela Tak Lindungi Anaknya

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Sejarah penegakan hukum di bangsa ini mencatat kisah inspiratif dari dua orang Jenderal Kepolisian Republik Indonesia. Mereka adalah Komandan Korps Brimob Polri Irjen Murad Ismail dan Jenderal Polisi Widodo Budidarmo.

Dikisahkan, dalam kasus tewasnya Brigdatar Mohamad Adam, ada 14 taruna Akpol yang ditetapkan sebagai tersangka. Salah satu di antaranya adalah anak Murad Ismail yang kini itu ditahan di Mapolda Jawa Tengah.

“Anak saya yang kedua menjadi tersangka,” ujar Murad di Jakarta, Selasa (6/6/2017).

Meski hasil autopsi Rumah Sakit Bhayangkara Semarang memperlihatkan bahwa tewasnya taruna tingkat II itu karena luka lebam di bagian paru-paru akibat dipukuli oleh seniornya di Korps Himpunan Indonesia Timur (HIT), Murad tetap meyakini bahwa anaknya tidak ikut melakukan pemukulan itu.

“Anak saya ada di sana, malah jadi tersangka. Dia enggak mukul tapi dia ada di sana,” lanjutnya.

Kendati demikian, demi tegaknya hukum di Indonesia, Murad yang merupakan jenderal berbintang dua ini tetap menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada insititusi kepolisian. Baginya, hukum tetap harus ditegakkan sekalipun anaknya terlibat di dalamnya. Tak boleh ada intervensi.

Baca Juga:  Aparat Polisi Diimbau Membawa Senjata Saat Bertugas

“Saya berusaha membela, tapi ya hukum harus ditegakkan. Kita biarkan saja, mungkin nasibnya bukan jadi polisi. Kamu saja enggak jadi polisi bisa hidup,” tambahnya.

Jelas, keputusan Murad Ismail ini mengingatkan kita pada sosok jenderal inspiratif lainnya, yakni Widodo Budidarmo.

Semasa hidupnya, Widodo dikenal sebagai jenderal yang tegas. Sikap itu tercermin ketika anaknya, Tono, menembak mati sopir keluarganya (Sugianto) tanpa sengaja pada pertengahan Mei 1973.

Sebagai orangtua, tentu Widodo dapat membayangkan bagaimana dampak buruk peristiwa itu bagi Tono. Meski ada yang menyarankan bagi kasus tersebut harus Widodo tutup-tutupi demi masa depan anaknya, tetapi dengan tegas Widodo ambil keputusan. Kasusnya tak boleh ditutupi. Widodo memilih bertanggung jawab dan menyelesaikan kasus ini secara hukum.

Kasus tersebut pun diserahkan ke aparat Polsek Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di depan wartawan, Widodo menjelaskan kejadiannya secara detal. Dia juga kembali menegaskan bahwa kasus tersebut harus diproses secara hukum.

Baca Juga:  Pengamat: Tiga Komjen Calon Kuat Pengganti Kapolri Idham Azis

“Kalau pers akan memberitakan peristiwa ini terserah. Hanya saja, saya pesankan agar objektif. Ini hanya suatu kecelakaan. Jangan sampai nanti anak saya dicap sebagai pembunuh dan sebagainya sehingga mempengaruhi pertumbuhannya,” kata Widodo seperti dikutip dari buku biografinya, Karena Kuasa dan Kasihnya, terbitan Praja Bhakti Nusantara dan Q Communication, 2014.

Selanjutnya widodo melaporkan peristiwa itu kepada atasannya Kapolri Jenderal Polisi M Hasan, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro, dan Menhankam/Pangab Jenderal M Panggabean.

Widodo juga melapor kepada Presiden Soeharto. Dia mengaku lalai dan siap meletakkan jabatannya. Tetapi, semua menyatakan apa yang dialami Widodo adalah musibah yang harus diambil hikmahnya.

Tono kemudian diadili di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Dia dihukum masa percobaan selama setahun.

Peristiwa itu terbukti tidak menghalangi karir Widodo Budidarmo. Dia bahkan dipromosikan untuk menjabat sebagai Kepala Polri Tahun 1974. (ms/me)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0