Kerja Sama Indonesia dan India untuk Membangun Perdamaian

SUARADEWAN.com – Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar pertama di dunia, sedangkan India berada di urutan ketiga. Oleh karenanya, kedua negara tersebut memiliki banyak kesamaan, termasuk dalam hal keberagaman.

Dalam dialog perdana yang mengangkat tema “Peran Ulama dalam Membangun Budaya Perdamaian dan Harmoni Sosial di India dan Indonesia”, kedua negara bersepakat akan pentingnya hidup berdampingan dengan tetap menjaga kerukunan antaragama, salah satunya dengan menolak paham-paham ekstremisme.

Dialog tersebut diselenggarakan di New Delhi, India pada Selasa (29/11). Acara diresmikan oleh Penasihat Keamanan Nasional India, Ajit Doval dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Mohammad Mahfud MD.

Dalam kesempatan tersebut, seperti dikutip RMOL.ID, Rabu (30/11), Doval menegaskan kembali perihal kekayaan warisan budaya dan keragaman kedua negara. Dia optimis, tradisi bersama Indonesia dan India berpotensi meningkatkan prospek perdamaian, kerja sama regional, dan kemakmuran di Asia.

“Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia sementara India adalah rumah bagi populasi Muslim terbesar ketiga di dunia. Menjadi rumah bagi sebagian besar umat Islam di dunia, kedua negara memiliki banyak kesamaan,” ujar Doval.

Salah satu kesamaan India dan Indonesia adalah latar belakang historisnya: Islam masuk ke dalam dua negara tersebut disebarkan oleh para pedagang dari Kerala (Gujarat saat ini) dan para sufi dari Bengal dan Kashmir. Penyebaran Islam tidak hanya mengarah pada perkembangan budaya sinkretis, di mana agama pra-Islam berkembang, tetapi tradisi kuno dan adat istiadat setempat sangat memengaruhi praktik keagamaan.

Masih Mengutip RMOL.ID, Doval lebih lanjut menunjukkan bahwa sekolah teologi Islam Deobandisme, Barelvisme dan Sufisme berakar di India. Belakangan, praktik dan tradisi mereka menyebar ke negara-negara Islam lainnya.

Sayangnya, baik India maupun Indonesia telah menjadi korban terorisme dan separatisme. Sehingga Doval menekankan bahwa ekstremisme bertentangan dengan makna Islam sebagai agama yang memperjuangkan perdamaian dan kesejahteraan.

Doval juga menyinggung soal organisasi atau gerakan teroris yang sudah dikenal khalayak terkait aksi-aksinya. Lebih spesifik, dia menyebutkan bahwa ISIS telah menabur dan menebar benih-benih ketakutan baik kepada India maupun Indonesia. Di situlah, menurutnya, pernah masyarakat yang sipil dibutuhkan untuk bekerjasama melawan gerakan tersebut.

“Terorisme lintas batas dan ISIS telah melahirkan ancaman bagi kedua negara. Kerja sama masyarakat sipil sangat penting untuk melawannya,” tegas Doval.

Dalam hal ini, Doval mengakui peran besar ulama dalam mendidik masyarakat tentang prinsip-prinsip asli Islam yang toleran dan moderat. Ia mengatakan radikalisasi dan ekstremisme dapat dilawan dengan gagasan dan pemikiran progresif. Kaum muda juga harus mendapat perhatian khusus karena mereka sering menjadi sasaran utama radikalisasi. Dikutip dari RMOL.ID, Kamis (1/12).

“Jika energi mereka dipupuk ke arah yang benar, mereka dapat muncul sebagai pertanda perubahan dan blok bangunan kemajuan dalam masyarakat mana pun,” tegasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90