Khocil Birawa Rilis Lagu Berlirik Satu Kata, Maturnuwun

YOGYAKARTA, SUARADEWAN.com – Khocil Birawa merilis lagu berjudul Maturnuwun. Rangkaian liriknya hanya menggunakan satu kata, maturnuwun. Videoklip lagu tersebut dirilis pada Jumat, 25 November 2022 di YouTube Channel Prima Founder TV.

Khocil Birawa, penyanyi nyentrik yang juga dikenal sebagai wartawan senior dan budayawan Yogyakarta saat diwawancarai pada Jumat (25/11/2022) mengatakan lagu Maturnuwun syairnya sangat spesial. Dari awal sampai akhir syairnya hanya maturnuwun.

“Mungkin lagu itu bentuk belas kasihan dari Prima Founder Records and Publishing, label musik dan publisher yang menaungi lagu-lagu yang saya rilis. Karena saya sudah tua, sudah susah menghafal lirik. Ha ha ha,” kata Khocil Birawa berkelakar.

Arransemen musik lagu Maturnuwun tersebut dikerjakan oleh Wahyu Andreas, dan proses tracking vokalnya dipandu oleh Arko Hexario. Produksi audionya didukung oleh Maya Sari Devi  sebagai Eksekutif Produser, Rulli “JNDRL” Aryanto & AM Kuncoro (Produser), dan Tixxy (Music Producer). Videoklipnya digarap Prima Founder Picture, pada timnya ada Rio Soekamplenk, Rajas Angkasa, Yaka, Ragil,  Ari, dan Eko.

Sebelum lagu Maturnuwun, Khocil Birawa telah merilis lagu Salam Jempol, Sarapan Pagi, dan Srawung. Semua lagu tersebut merupakan karya lagu yang ditulis oleh AM Kuncoro.

Baca Juga:  Kisah Ummu Hani; Perempuan Yang Menolak Pinangan Rasulullah

Pada kesempatan yang sama, AM Kuncoro yang juga merupakan salah seorang pemilik Prima Founder Records and Publishing mengatakan lagu Maturnuwun agak berbeda dari ketiga lagu yang telah dirilis Khocil Birawa. Lagu terbaru Khocil Birawa tersebut punya jalan mulus untuk diterima masyarakat, karena tiga lagu sebelumnya ramai digunakan netizen untuk jadi backsound video-video kreasi di media sosial.

Lebih lanjut, Khocil Birawa menceritakan perjalanan karirnya di dunia seni. Saat lulus Sekolah Menengah Atas ia meneruskan pendidikannya di akademi drama dan film. Dari sana ia mulai mengenal dunia akting. Pada tahun 1982 di Yogyakarta, Arifin C Noer menggarap film Serangan Fajar, Khocil Birawa pun mendapat peran di film tersebut, proses dubbing-nya dilakukan di Jakarta.

Dari keterlibatannya pada film tersebut, Khocil Birawa jadi dekat dengan para sineas di Jakarta. Selanjutnya, ia pun mendapatkan peran pada film Joko Tarub serta film-film misteri dan horor lainnya.

Karena sudah berkeluarga dan punya anak, pada tahun 1990 Khocil Birawa mulai menekuni profesi sebagai jurnalis seni dan budaya, demi memenuhi kebutuhan rumahtangganya. Meski aktivitasnya di dunia film jadi berkurang, namun Khocil Birawa tetap berkesenian. Selain berteater, Khocil Birawa lebih aktif di belakang panggung. Ia membuat pentas-pentas ketoprak, serta mendampingi teman-temannya di dunia seni pedalangan dan humor.

Baca Juga:  Menteri Investasi Bahlil Lahadalia : Paket C Bukan Berarti seseorang Tidak Berkualitas

“Meskipun saya bukan orang musik, saat itu saya juga bikin orkes keroncong untuk segmen kalangan anak muda. Saya ingin membuktikan keroncong bukan musik kuno,” kata Khocil Birawa.

Menurut Khocil Birawa, perubahan zaman turut dipicu oleh kemajuan teknologi. Bagi para pegiat seni dan budaya yang tidak mengikuti perubahan, tidak akan mendapatkan tempat di tengah masyarakat.

“Dulu dengan alat yang sederhana, para artis penyanyi benar-benar harus kuat karakternya untuk masuki industri rekaman. Dengan analog saat ini, produksi lagu dimudahkan oleh alat. Vokal cempreng bisa menjadi cespleng. Adanya kemajuan teknologi, semoga para pegiat musik dapat mengimbanginya dengan karya yang makin berkualitas,” kata Khocil Birawa.

(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)

Tinggalkan Balasan

banner 728x90