HomeHankam

Kokohkan Kebhinekaan untuk Tangkal Radikalisme

Dalam dinamika acara diskusi yang dipandu oleh peneliti muda Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Sekar Hapsari ini, ketiga pembicara menyatakan kesepakatannya bahwa ada persoalan radikalisme yang saat ini dihadapi oleh Indonesia, yang berusaha menggoyang dasar negara Pancasila. Namun masing-masing pembicara memiliki perspektifnya sendiri dalam membaca fenomena tersebut.

Menurut Mulawarman, dari sejumlah aksi teror yang terjadi, tidak bisa dipungkiri bahwa ada unsur keagamaan yang menginspirasi gerakan-gerakan teror yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia. Dia mengutip pendapat Valerie Thompson, seorang peneliti kelompok-kelompok radikal dari Norwich University Inggris. Menurut Valerie, proses orang untuk menjadi radikal itu berawal dari proses indoktrinasi, adopsi atau transfer ideologi radikal. Selanjutnya, dari ideologi itu melahirkan pembolehan terhadap kekerasan. Menurut peneliti asing ini, sumber doktrin kelompok radikal pada umumnya berasal dari ajaran agama, meskipun tidak bisa dipungkiri juga ada peran sumber lainnya seperti ideoogi politik.

Baca Juga:  Pelajar Harus Waspadai Kelompok Radikal di Medsos

Sedangkan menurut Sekjen PRD Rudi Hartono, persoalan radikalisme di Indonesia tidak hanya semata-mata muncul karena doktrin agama. Melainkan juga karena ada unsur ketidakadilan yang selama ini berkembang dalam struktur ekonomi-politik di tanah air. Ketika yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin, kemudian beban itulah yang mendorong sebagian orang untuk mengambil jalan kekerasan untuk mencari penyelesaian persoalan, atau minimal dengan cara itu dia bisa melampiaskan kemarahannya.

Pendapat tersebut juga diamini oleh narasumber Bakir Ihsan. Menurut doktor politik islam UIN Jakarta ini, persoalan radikalisme saat ini bisa dilacak akarnya hingga ke masa orde baru. Selama 32 tahun Soeharto menguasai pemerintahan Indonesia, dia melakukan distorsi dan manipulasi terhadap nilai-nilai luhur Pancasila sehingga sesuai dengan tujuan dan kepentingan ekonomi-politiknya. Caranya, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia itu dikristalkan menjadi Ideologi dengan tafsir tunggal dan kemudian dikendalikan oleh kekuasaan. “Kekuasaan telah membuat jarak yang jauh antara Pancasila dengan kehidupan masyarakatnya,” kata Bakir Ihsan.

Baca Juga:  BIN: Ada 41 Masjid dan 50 Pencaramah Dengan Paham Radikalime

Menurutnya, cara untuk mengatasi persoalan radikalisme yang saat ini terjadi di tanah air adalah, dengan melakukan penguatan internal manusia Indonesia tentang nilai-nilai pancasila. Hal itu bisa dilakukan melalui diskusi yang intens, baik dalam bentuk formal maupun non-formal, bisa juga melalui interaksi yang mendalam antara masyarakat dari SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan) yang satu ke SARA yang lain, agar saling mengenal dan tumbuh rasa toleransi. “Kebhinekaan adalah takdir kita sebagai sebuah bangsa. Mengingkari kebhinekaan berarti mengingkari Indonesia,” jelas Bakir Ihsan. (ZA)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0