HomeInternasionalAsia-Afrika-Pasifik

Kuasai Afghanistan, Taliban Kendalikan Sumber Daya Mineral Senilai US$ 1 triliun

Kuasai Afghanistan, Taliban Kendalikan Sumber Daya Mineral Senilai US$ 1 triliunMineral Lithium (ANTARA FOTO/REUTERS/Patrick T. Fall)

SUARADEWAN.com — Jatuhnya Afghanistan ke tangan kelompok Taliban telah menyebabkan krisis politik dan kemanusiaan di negara itu. Namun para ahli juga bertanya-tanya, bagaimana nasib sumber daya mineral Afghanistan yang belum tergali?

Afghanistan, yang terletak di perbatasan Asia Tengah dan Asia Selatan, merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Namun pada 2010, ahli geologi tentara Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa Afghanistan memiliki deposit mineral yang melimpah, yang nilainya diperkirakan US$ 1 triliun atau lebih Rp 14.000 triliun.

Sumber daya mineral yang dikandung alam Afghanistan terdiri dari besi, tembaga, dan emas yang tersebar di beberapa provinsi. Ada juga mineral tanah jarang (rare earth mineral) , dan kemungkinan deposit lithium terbesar di dunia.

Afghanistan merupakan salah satu daerah yang kaya akan logam mulia tradisional, tetapi juga logam langka (yang dibutuhkan) untuk perekonomian di abad ke-21,” kata Rod Schoonover, seorang ilmuwan dan pakar keamanan pendir Ecological Futures Group, dikutip dari CNN, Kamis (19/8).

Pemerintah AS memperkirakan bahwa deposit lithium di Afghanistan dapat menyaingi yang ada di Bolivia yang merupakan pemilik cadangan terbesar yang diketahui di dunia.

Jika sumber daya tersebut dapat digali dan dimanfaatkan, dapat dipastikan mengubah lanskap perekonomian negara ini secara signifikan. Meskipun ada sejumlah tantangan besar seperti keamanan, infrastruktur yang minim, dan kekeringan parah, yang menghalangi upaya ekstraksi di masa lalu.

Baca Juga:  Beijing Minta Taliban Segera Memerangi Kelompok Islam Ini di Afghanistan

Kondisi ini kemungkinan tidak akan banyak berubah selama Taliban masih berkuasa. Meskipun ada beberapa negara, seperti Tiongkok, Pakistan, dan India, yang tertarik untuk melakukan pendekatan, meskipun di tengah kekacauan. Ini menjadi tanda tanya besar, kata Schoonover.

Permintaan logam seperti lithium dan kobalt, serta elemen tanah jarang seperti neodymium, melonjak ketika dunia mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi bersih lainnya untuk memangkas emisi karbon.

Badan Energi Internasional (EIA) pada Mei menyebutkan bahwa pasokan global lithium, tembaga, nikel, kobalt, dan elemen tanah jarang harus meningkat tajam atau dunia akan gagal mengatasi krisis iklim.

Saat ini Tiongkok, Kongo, dan Australia, menyumbang 75% pasokan global lithium, kobalt, dan elemen tanah jarang. Menurut IEA, rata-rata mobil listrik membutuhkan mineral enam kali lebih banyak daripada mobil konvensional.

Lithium, nikel dan kobalt sangat penting untuk baterai. Jaringan listrik juga membutuhkan tembaga dan aluminium dalam jumlah besar, sementara elemen tanah jarang digunakan dalam magnet yang dibutuhkan untuk membuat turbin angin bekerja.

Dalam laporan Bank Dunia, disebutkan bahwa banyak negara dengan pemerintahan yang lemah menderita kutukan sumber daya, di mana upaya untuk mengeksploitasi sumber daya alam gagal memberikan manfaat bagi perekonomian. Afghanistan salah satunya, meskipun memiliki kekayaan mineral yang sangat menjanjikan.

“Jika Afghanistan tenang dalam beberapa tahun dan memungkinkan pengembangan sumber daya mineralnya, negara ini akan menjadi salah satu negara terkaya di kawasan dalam satu dekade,” kata Mirzad dari Survei Geologi AS kepada majalah Science pada 2010.

Faktanya, ketenangan itu tidak pernah terwujud, dan sebagian besar kekayaan mineral Afghanistan tetap berada di dalam tanah. Meskipun ada sejumlah upaya untuk mengekstraksi emas, tembaga, dan besi, eksploitasi lithium dan mineral tanah jarang membutuhkan investasi, pengetahuan teknis yang lebih besar, dan waktu.

Baca Juga:  ISIS-Taliban Diduga Melakukan Pembantaian 40 Orang di Afganistan

IEA memperkirakan bahwa butuh rata-rata 16 tahun dari penemuan deposit untuk menjadi tambang yang mulai berproduksi. Saat ini eksploitasi mineral di Afghanistan hanya menghasilkan sekitar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun per tahun.

Menurut rekan senior nonresiden di Dewan Atlantik dan mantan direktur Timur Tengah dan Asia Tengah IMF, Mosin Khan, hasil eksploitasi tersebut 30-40% dikorupsi dan diambil oleh panglima perang Taliban yang memimpin proyek pertambangan kecil. (kdt)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0