HomeIPTEK

Kurikulum Merdeka PAUD Menuju Generasi Emas Pancasila

Kurikulum Merdeka PAUD Menuju Generasi Emas Pancasila

Oleh : Rika Sulastri, M.Pd (Pendiri dan Pengelola Yayasan Pendidikan Fun Kidz)

Perubahan kondisi pendidikan yang terjadi selama kurang lebih 2 tahun terakhir akibat pandemi Covid-19 telah menyebabkan ketertinggalan pembelajaran (learning loss) pada ketercapaian kompetensi peserta didik. Mengatasi hal tersebut Kemendikbudristek meluncurkan Kurikulum Prototipe yang kini telah berganti nama menjadi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka ini bersifat opsional yang dapat dikembangkan oleh tiap sekolah selain Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat, guna mempercepat perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.

Kegiatan pembelajaran online terbukti menyebabkan menurunnya kreatifitas dan penanaman nilai karakter pada anak usia dini akibat kurangnya interaksi langsung antara guru dengan peserta didik atau sesama peserta didik. Berbagai studi baik nasional maupun internasional juga menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang cukup rendah.

Dalam rangka menghadapi berbagai tantangan tersebut perlu dilakukan perubahan yang sistemik salah satunya melalui kurikulum. Kurikulum Merdeka PAUD hadir sebagai salah satu dari tiga opsi kurikulum yang dapat diterapkan oleh lembaga dimana kurikulum ini  memiliki 3 elemen yang menjadi faktor penting, diantaranya pembelajaran yang fleksibel, berbasis kompetensi dan berkarakter Pancasila.

Penyusunan Struktur Kurikulum Merdeka PAUD harus berpedoman pada Tujuan Pendidikan Nasional yang diterjemahkan menjadi Tujuan Pembelajaran dengan mengacu pada Capaian Pembelajaran dengan mempertimbangkan visi dan misi satuan PAUD, profil pelajar, karakteristik peserta didik, serta karakteristik lokal dan budaya setempat.

Karakteristik Kurikulum Merdeka PAUD meliputi pertama, kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama. Bagi anak usia dini kegiatan bermain adalah belajar. Oleh karena itu, kegiatan bermain anak perlu difasilitasi agar dapat menjadi kegiatan bermain-belajar yang bermakna guna mendukung tercapainya hasil pembelajaran yang diharapkan.

Kedua, penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain-belajar berbasis buku bacaan anak. Yang harus digarisbawahi bahwa literasi bukan dimaknai anak harus mampu membaca secara mandiri namun merupakan kemampuan anak untuk mengungkapkan dan menceritakan kembali informasi yang didengar, dilihat, diamati dan dipahami. Penguatan literasi juga harus mengacu pada pembelajaran kontekstual yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari anak.

Ketiga, fase fondasi untuk meningkatkan kesiapan bersekolah.  Pendidikan di Indonesia diwajibkan mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), sementara jenjang PAUD merupakan proses untuk menyiapkan anak ke SD sehingga fokus utama PAUD bukan pada kemampuan calistung anak, tetapi pada pembentukan nilai-nilai karakter agar anak siap memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

Keempat, pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan melalui kegiatan perayaan hari besar dan perayaan tradisi lokal. Pada Kurikulum Merdeka PAUD penerapan 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif dapat dilakukan dengan membangun budaya sekolah, kegiatan intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler serta kegiatan pembelajaran berbasis proyek dengan 4 topik besar yaitu Aku Sayang Bumi, Aku Cinta Indonesia, Bermain & Bekerjasama serta Imajinasiku yang semuanya tercermin pada perayaan hari besar dan perayaan tradisi lokal pada tiap sekolah.

Keempat karakteristik Kurikulum Merdeka PAUD tersebut hendaknya dipahami oleh guru di sekolah dibawah arahan dan bimbingan kepala sekolah agar visi misi lembaga dapat terwujud. Hal ini didukung dengan adanya kewenangan lembaga untuk menyusun kurikulum secara mandiri dengan mengangkat kekhasan dan keunggulan dari lembaga tersebut. Untuk itu sekolah perlu mengkaji ulang kembali visi misi dan tujuan lembaga pada saat penyusunan kurikulum lembaganya.

Kurikulum Merdeka PAUD tidak serta merta hadir namun merupakan kelanjutan pengembangan  kurikulum sebelumnya. Arah pergeseran Kurikulum Merdeka PAUD  yang berfokus pada anak usia 5-6 tahun ini tergambar melalui perubahan jam belajar yang semula 900 menit perminggu menjadi 1050 menit perminggu. Assesmen yang sebelumnya merujuk pada STPPA dan dilaporkan harian kini merujuk pada Capaian Pembelajaran yang cukup dilaporkan pada akhir semester. Pendekatan pembelajaran pada Kurikulum Merdeka PAUD berbasis literasi yaitu buku bacaan anak, tidak lagi berbasis tema. Pengintegrasian literasi dan numerasi ke dalam CP dilakukan melalui kegiatan bermain-belajar, tidak lagi dipersepsi sebagai kegiatan calistung melalui drilling.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan zaman dan keberagaman budaya Indonesia memerlukan kerangka kurikulum yang fleksibel dan kontekstual. Perubahan pembelajaran melalui penyesuaian kurikulum merupakan implikasi dari adaptasi pembelajaran terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu, kita perlu menyikapi perubahan tersebut dengan sikap positif dan optimis dengan terus melakukan refleksi dan evaluasi terhadap hasil pencapaian saat ini.

Pada Kurikulum Merdeka PAUD, KI-KD tidak lagi digunakan tetapi menggunakan Capaian Pembelajaran. Lingkup Capaian Pembelajaran di PAUD yang pertama adalah Nilai Agama dan Budi Pekerti, kedua adalah Jati Diri, yang ketiga adalah Dasar-dasar Literasi dan STEAM.

Mengingat Kurikulum Merdeka PAUD bertujuan sebagai kurikulum pemulihan pembelajaran, maka meskipun kurikulum ini bersifat sebagai opsi tambahan selama Tahun 2022-2024, namun hasil evaluasi dari penerapan kurikulum ini nantinya akan digunakan untuk mendukung penentuan kebijakan kurikulum nasional pada tahun 2024.

Penerapan Kurikulum Merdeka PAUD pada satuan pendidikan tentu bukan hal yang mudah dilakukan oleh guru sebagai ujung tombak proses kegiatan pembelajaran. Guru harus betul-betul memahami komponen dari Kurikulum Merdeka PAUD secara menyeluruh agar dapat mencapai hasil belajar yang diinginkan. Untuk itu, sosialisasi dan pelatihan dari pemerintah sangat diperlukan agar Kurikulum Merdeka PAUD dapat terlaksana secara maksimal di seluruh Indonesia demi terwujudnya generasi emas berkarakter Pancasila.***

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0