Menjadi Manusia Kembali dalam UWRF 2022

SUARADEWAN.com – Pagelaran sastra dan seni terbesar se-Asia Tenggara, Ubud Writers and Readers Festival 2022, diadakan pada tanggal 27 hingga 30 Oktober 2022. Bertempat di Ubud, Gianyar, Bali, festival ini mengusung tema “Memayu Hayuning Bhawana” yang dikaitkan dengan “Uniting Humanity”.

Kedua filosofi tersebut kemudian dimaknai sebagai memelihara keindahan dunia dengan cara mempersatukan umat manusia.

Pendiri UWRF, Janet DeNeefe, mengatakan bahwa acara yang ia gelar selalu terasa menyenangkan dan telah berhasil mengumpulkan banyak orang. Melalui festival ini ia mengajak berdiskusi terutama tentang efek tindak kekerasan, konflik, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Di samping itu terdapat banyak program lain seperti kulinari, pengembangan kemampuan menulis, peluncuran buku, pemberian penghargaan, pengenalan bahasa Indonesia dan Bali, pertunjukan musik dan permakultur, pameran seni, lokakarya batik, pertunjukan wayang kulit, dan malam pembacaan puisi.

Baca Juga:  Chairil Anwar, Gema Seratus Tahun Kelahirannya

Selain menghadirkan penulis kelas dunia, seperti Oksana Maksymchwk, UWRF juga menghadirkan beberapa penulis Indonesia terkemuka, seperti Putu Oka Sukanta dan Ahmad Fuadi.

Di samping itu, UWRF juga memberikan ruang bagi sepuluh penulis muda berprestasi terseleksi untuk memperkenalkan diri melalui berbagai program acara dan antologi.

Aktivis kemanusiaan yang hadir sebagai pembicara antara lain Osman Yousezada dari Inggris. Ada pun jurnalis dan novelis Aprilla Wayar dari Papua membicarakan kebangkitan sastra dan literasi di Indonesia.

Musisi dan aktivis ekologi Rara Sekar pun tampil dan mengungkapkan betapa pentingnya menjaga hubungan yang baik antara diri dengan masyarakat dan alam.

Penghargaan seumur hidup, atau lifetime achievement diberikan kepada penulis senior Putu Oka Sukanta. Dalam kesempatannya ia mengatakan, “Menulis adalah cara saya menjadi manusia kembali.” Penulis tersebut telah berkarya selama 40 tahun lebih, dan kini berusia 83 tahun.

Baca Juga:  Sejarah! Filipina Rengkuh Medali Emas Perdananya di Ajang Olimpiade

Karya Putu Oka Sukanta telah dimuat dalam beberapa antologi internasional. Antara lain Indonesian Contemporary Poetry (1963), This Prison Where I Live (1966), Voice of Cosciences (1955), Bali Behind the Scene (1997), Silences Voices (2000), Menagerie IV (1998), Another Kinds of Paradise (2008). Sedangkan beberapa bukunya telah diterbitkan dalam beberapa bahasa.

Pertunjukan wayang kulit dihadirkan dengan Ki Purbo Asmoro sebagai dalang, dengan 18 penabuh gamelan dan sinden dari Solo. Pertunjukan wayang kulit bertajuk “Memayu Hayuning Bhawono” membuat kesan tak terlupakan dengan adanya suasana yang berbeda karena perpaduan budaya Bali sebagai latarnya.

Pagelaran ditutup dengan pertunjukan musik dari Gabriela Fernandes dan Hydra, serta gerai makanan di Taman Baca pada Kamis malam, tanggal 27 Oktober 2022.***

Tinggalkan Balasan

banner 728x90