HomeHankam

Menteri Lukman Keluarkan 9 Butir Seruan Untuk Penceramah

Menteri Lukman Keluarkan 9 Butir Seruan Untuk Penceramah

JAKARTA, SUARADEWAN.com –  Di negeri yang majemuk ini faktor isu SARA sering menjadi pemicu konflik di berbagai lapisan masyarakat. Apalagi dalam belakangan ini, banyak yang memanfaatkan tempat ibadah seperti masjid, gereja, dan sarana ibadah lainnya digunakan sebagai tempat memprovokator ummat.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin mengeluarkan 9 butir seruan bagi penceramah di tempat ibadah, yang diharapkan agar tidak memberikan ujaran kebencian di setiap ceramah-ceramahnya.

Dan diharapkan juga agar para penceramah tak memberikan materi bermuatan politis, isu SARA, dan materi-materi ceramah yang bertentangan dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Dalam rangka menjaga keragaman, kami perlu menyikapi dengan bijak melalui pendekatan terhadap penceramah di rumah ibadah,” terang Lukman dalam konferensi pers di kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat 28 April 2017.

Seruan ini pun didukung oleh berbagai pihak salah satunya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, dalam catatan MUI, mestinya ada satu poin lagi yang menjelaskan tentang mekanisme kontrol dan sanksi para penceramah ini.

Baca Juga:  DPR Sarankan Fatwa MUI tentang Medsos Menjadi Hukum Positif

“Seruan ini tidak dibarengi dengan adanya sanksi,” katanya seperti dilansir keterangan tertulis, Sabtu, 29 April 2017. Karena menurut Zainut, takutnya seruan ini tidak cukup efektif mendorong para penceramah untuk mematuhinya jika tak ada sanksi.

Seruan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama ini dinilai positif, sebab ceramah-ceramah yang isinya tentang ujaran kebencian akan membawa umat pada cara berpikir yang salah . Isi khutbah atau ceramah-ceramah mestinya menyejukkan, membawa pesan damai dan membangkitkan semangat nasionalisme.

Berikut isi seruan tersebut :

  1. Penceramah memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.
  2. Penyemapaiannya berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.
  3. Disampaikan dalam kalimat yang baik, santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan. Terbebas dari umpatan, makian maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama manapun.
  4. Bernuansa mendidik, pencerahan yang meliputi spiritual, intelektual, emosional, dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasihat, motivasi,dan pengetahuan yang mengarah kepada,kebaikan peningkatan kapasitas diri, pemberdayaan umat, penyempurnaan akhlak, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa serta kesejahteraan dan keadilan sosial.
  5. Materi yang disampaikan tak bertentangan dengan empat konsesnsus Bangsa Indonesia yaitu Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
  6. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.
  7. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan penodaan dan atau pelecehan terhadap pandangan keyakinan dan praktek ibadah antar/dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis dan destruktif
  8. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan atau promosi bisnis.
  9. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah. (aw)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: