HomeEkonomi

Meski Sudah Dilarang, Tambang Liar di Samarinda Tetap Beroperasi

Meski Sudah Dilarang, Tambang Liar di Samarinda Tetap Beroperasi

SAMARINDA, SUARADEWAN.com – Pertambangan batu bara di sejumlah kota di Samarinda terbukti tak beralaskan izin alias ilegal. Terlebih lagi, geliat tambang emas hitam ini kian menyiksa warga setempat.

Meski sudah dinyatakan terlarang dan police line sudah dipasang aparat kepolisian setempat, aktivitas pertambangan liar ini tetap saja beroperasi sebagaimana sebelumnya.

“Semua cara sudah ditempuh. Dari sidak bersama penegak hukum ke lapangan sampai menyegel lokasi, tapi kata warga, mereka kembali beraktivitas,” ucap Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kalimatan Timur, Amrullah.

Memang, kewenangan yang dimiliki Pemprov Kaltim, terlebih Pemkot Samarinda, bisa dikatakan tak ampuh lagi. Upaya koordinasi dengan pihak setempat sampai pelibatan penegak hukum sendiri juga terkesan sia-sia.

Baca Juga:  Emas Kalimantan Barat Dijual ke Pasar Gelap

Bahkan, memanggil pengembang lahan yang membangun perumahan yang dijadikan modus operandi tersebut pun turut ditempuh. Tapi lagi-lagi, hasil yang diperoleh tetap tak memuaskan. Dan satu-satunya cara, menurut Amrullah, hanyalah berkoordinasi dengan pusat untuk membantu menindak permasalahan ini.

“Bukan kami menyerah, tapi upaya kami enggak mempan,” terangnya.

Persoalan tambang liar ini kian runyam ketika melihat bahwa hasil yang diperoleh dari pertambangan ilegal ini hanyalah berupa lubang galian. Parahnya, galian yang menganga tersebut sangat berdekatan dengan fasilitas umum dan sosial.

“Tambah lagi dengan adanya lubang. Ujungnya pasti kami yang disalahkan karena dianggap membiarkan,” keluh Amrullah.

Baca Juga:  Polisi Razia Tambang Emas Ilegal di Kalimantan

Seperti diketahui, tiga lubang berdiameter sekitar 15 meter dengan kedalaman hampir 20 meter tersebar di atas lahan seluas 4 hektare. Salah satu di antaranya hanya berjarak belasan meter dari rumah warga. Dan yang jelas, efek dari adanya aktivitas liar ini adalah kerusakan lingkungan warga yang bermukim tepat di lokasi tambang.

Bahkan, pada 30 Januari 2017 lalu, sudah ada 16 rumah warga yang harus merasakan banjir lumpur dengan ketinggian hampir satu meter. Hal ini, menurut informasi dari warga, adalah efek dari adanya lubang galian dari pertambangan ilegal tersebut mengingat sebelumnya warga setempat jarang menderita karena banjir lumpur. (ms)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: