oleh

Mie Instan Mengandung Zat Babi, Komisi IX DPR: Seharusnya BPOM Lebih Jeli

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengapresiasi tindakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menarik produk mie instan asal Korea yang diduga mengandung fragmen DNA babi.

Meski mengapresiasi, Wakil Ketua Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay juga menyayangkan kinerja BPOM yang dinilai ceroboh sehingga kebobolan produk yang diduga haram tersebut. Saleh mempertanyakan proses pemeriksaan produk impor yang dapat didistribusikan ke Indonesia. Menurutnya, BPOM seharusnya lebih jeli.

“Waktu mengeluarkan izin, apakah BPOM tidak mengecek ini? Mestinya soal kandungannya juga harus diperiksa. Kenapa setelah masuk ke Indonesia baru kemudian ada temuan seperti ini?” kata Saleh.

Selain itu, lanjut Saleh, sebelum izin impor diperoleh oleh produsen, biasanya importir terlebih dahulu meminta izin ke berbagai pihak, termasuk BPOM. Hal ini terutama untuk menilai kelayakan dan tingkat keamanan pangan untuk dikonsumsi. Inilah yang menjadi salah satu tugas BPOM dalam melakukan pengawasan yang bukan hanya dalam ranah administratif.

Baca Juga:  Anggota DPR Ini Nilai PPKM Darurat Belum Efektif Kendalikan Covid-19

“Apresiasi kita pada BPOM tidak mengurangi upaya kita untuk mengoreksi berbagai hal yang dianggap tidak benar. Ini harus betul-betul menjadi perhatian BPOM. Perlu ada penjelasan resmi dari BPOM,” paparnya.

Sebelumnya dikabarkan, BPOM menarik empat produk mie instan asal Korea yang positif mengandung zat babi, yakni Samyang dengan nama produk U-Dong, Nongshim dengan nama produk Shin Ramyun Black, Samyang dengan nama produk Mie Instan Rasa Kimchi, dan Ottogi dengan nama produk Yeul Ramen.

Selain itu, keempat produk tersebut tidak mencantumkan peringatan “mengandung babi”.

Baca Juga:  China Punya Sinovac Tapi Impor Vaksin Pfizer-BioNtech, DPR: Aneh

Soal ini, Saleh memandang dapat saja dijual di Indonesia tapi dengan catatan tertentu, seperti pemberian label mengandung babi, karena di Indonesia ada agama yang tidak melarang hal tersebut.

“Sebetulnya, kalau ada merk yang menyatakan bahwa mie-mie itu mengandung babi, tetap saja boleh dijual, tentu konsumennya adalah non-muslim. Tapi kalau tidak ada labelnya, ini menjadi masalah sebab bisa saja dibeli dan dikonsumsi orang Islam. Ada ketidakjujuran yang dilakukan importir,” pungkas Saleh. (ms/de/ko)

Komentar

Berita Lainnya