Naik Haji (bukan) Hanya Untuk Orang Yang Mampu

Penjaga Masjid Naik Haji

Mulyono (75) tekun mencicil dari gaji Rp 350.000/bulan sebagai Penjaga Masjid untuk bisa menunaikan niat naik haji pada tahun ini. Mulyono adalah petugas kebersihan Masjid Agung Al Munawwar Tulungagung sejak 30 tahun silam. Hingga kini, ayah tiga anak dan kakek lima cucu ini mendapat upah Rp 350.000 per bulan.

Dia mengisahkan, pada tahun 2011 silam, sang anak mendaftarkan dirinya untuk menjalankan ibadah haji. Setiap bulan, Mulyono lalu harus mengangsur pembayaran sebesar Rp 500.000.

Seluruh uang hasil jerih payahnya membersihkan masjid digunakan semua untuk membayar angsuran.

“Begitu saya niat berangkat haji, banyak jamaah yang memberi infaq kepada saya. Hasilnya dikumpulkan untuk angsuran. Kalau ada sisa dipakai untuk keperluan,” ujar Mulyono.

Mulyono (75) memandang tas haji, berisi perbekalannya selama di Tanah Suci. Meski bergaji Rp 350.000 per bulan, petugas kebersihan Masjid Agung Al Munawwar ini bisa berangkat haji tahun ini. (Surya/David Yohannes)

Mulyono mengenang, dirinya pernah beberapa kali pengajian ke rumah orang yang baru pulang dari ibadah haji. Ketika itu, dirinya mempunyai keinginan untuk bisa ke tanah suci.

Setelah enam tahun mengangsur, kini Mulyono menjadi salah satu calon jamaah haji (CJH) asal Tulungagung yang berangkat.

Baca Juga:  Jokowi: Masyarakat Harus Tetap Rukun Walaupun Berbeda Pilihan Politik

Nenek Penjual Bubur Naik Haji

Mak Ti didampingi putranya menunjukkan bubur yang dijual di Pasar Cerme, Gresik, Senin (22/8/2016). Keuntungannya ditabung Rp 10.000 setiap hari (SURYA.SUGIYONO)

Nawati (60), warga desa Cerme Lor, Kecamatan Cerme, Gresik akan naik haji hasil dari menjual bubur dan menabung Rp 10.000 setiap hari.

Nenek satu cucu ini dijadwalkan berangkat ke tanah suci Mekkah pada kloter 39 yang berangkat Rabu (24/8/2016).

Nawati sehari-hari hanya berjualan bubur di Pasar Cerme. Selama lebih dari 45 tahun dia menjual bubur. Niatnya menunaikan ibadah haji akhirnya terkabul setelah tekun menabung selama 10 tahun dari menyisihkan penghasilan menjual bubur.

“Dulu, kalau tidak habis, dijual keliling kampung. Sekarang menetap berjualan di Pasar Cerme sampai habis,” kata Nawati didampingi putranya, Senin (22/8/2016).

Usaha berjualan bubur tersebut sudah dijalani sejak usia 15 tahun. Sampai saat ini usianya sudah 60 tahun sehingga selama 45 tahun Nawati berjualan bubur.

“Kalau ada lebih ya ditabung. Kalau tidak ada ya tidak menabung. Besoknya, kalau ada lebih menabung lagi. Hampir 10 tahun ini terus menabung. Setiap hari hanya Rp 10.000,” kata Nawati yang akrap disapa Mak Ti.

Baca Juga:  DPD Desak Pemerintah Segera Tetapkan Status Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun ini

Nenek Pemulung Naik Haji

Nenek berusia 70 tahun itu biasa mencari sampah hingga sejauh 20 kilometer, keluar dari desanya di Desa Bulubrangsi, Kabupaten Lamongan.

Selama 7 tahun memulung dan menjual sampah, seorang nenek di Lamongan, Jawa Timur, akhirnya bisa berangkat haji tahun ini. Seperti ditayangkan Liputan6 Siang SCTV, Kamis (27/7/2017), Nenek Murip setiap hari berkeliling desa mengumpulkan sampah.

Nenek berusia 70 tahun itu biasa mencari sampah hingga sejauh 20 kilometer, keluar dari desanya di Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Setelah berhasil dikumpulkan, sampah-sampah tersebut kemudian dijual kembali kepada pembeli yang datang ke rumahnya.

Dari hasil menjual sampah, nenek Murip bisa mengumpulkan Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per hari untuk berangkat haji ke Tanah Suci Mekah.

Tujuh tahun menabung, akhirnya nenek Murip bisa berangkat haji pada 1 Agustus 2017 bersama rombongan kloter 18 melalui embarkasi Surabaya.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk berniat dan bercita-cita menunaikan ibadah Haji dan bekerja keras untuk mewujudkannya. (HSN)

Previous

Tinggalkan Balasan

banner 728x90