HomePolitik

Orang Parpol Sulit Jadi Komisioner KPU

Wakil Ketua DPR RI dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadzi Zon.

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Sebelumnya beredar wacana di parlemen senayan mengenai usulan penambahan komisioner Komisi Pemilhan Umum (KPU) RI dengan memasukkan unsur dari partai politik.

Wacana itu awalnya disampaikan oleh Wakil Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang (Pansus RUU) Pemilu Yandri Susanto. Menurut politikus PAN ini, Pansus mewacanakan keanggotaan komisioner penyelenggara pemilu itu setelah belajar dari keanggotaan KPU di Jerman yang terdiri dari delapan orang berlatar belakang partai politik, dan dua orang hakim untuk mengawal bila muncul permasalahan hukum.

Baca Juga:  Cegah Kampanye Hitam, RUU Pemilu akan Mengatur Regulasi Kampanye di Media Sosial

Namun menurut Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, wacana melibatkan anggota Parpol dalam lembaga penyelenggara pemilu itu sepertinya akan sulit untuk direalisasikan dalam konteks perpolitikan di Indonesia pada saat ini.

“Saya masih melihat ini peluangnya kecil untuk kembali ke arah itu,” kata Fadli di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/3).

Menurut Politikus partai Gerindra ini, wacana penambahan komisioner KPU memang menjadi sorotan di Komisi II. Sebab, pada pemilu 2019 nanti pelaksanaan pemilihan legislatif akan dilangsungkan bersamaan dengan pemilihan presiden. Dengan demikian, maka ruang lingkup pekerjaan KPU akan menjadi lebih besar dari sebelumnya.

Baca Juga:  Syahrini, Fadli Zon dan Fahri Hamzah Disebut dalam Sidang Kasus Suap Pajak

“Kalau 7 orang dianggap terlalu sedikit. Wacananya ditambah bisa 9 bisa 11,” tukas Fadli.

Wakil ketua umum partai Gerindra ini percaya, jika anggota partai politik dilibatkan sebagai bagian dari komisioner KPU, maka kecurangan yang biasa terjadi dalam pemilu bisa dihindari, sebab otomatis mereka akan saling kontrol.

“Memang perwakilan parpol itu menjamin tidak ada kecurangan karena saling kontrol tapi belum tentu ini bisa menjadi kenyataan,” tukas Fadli. (ZA)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: