Organisasi Pemuda Sampang Hadirkan Dosen UIN Semarang dalam Webinar Literasi: Perbedaan PUEBI dengan EYD V

SUARADEWAN.com – Organisasi Pemuda Sampang yang diberi nama Sampang Development Center (SDC) bekerjasama dengan KOMUNITAS PENIKMAT PUISI (KOPIP), dalam rangka menghidupkan literasi mengadakan Webinar Literasi dengan mengangkat tema, “EYD V DAN PUEBI: Apa Perbedaannya dan Mengapa Harus Berubah?” Acara tersebut diadakan secara daring menggunakan G-meet pada Sabtu (19/11) malam.

St. Maizah selaku host membacakan susunan acara serta membacakan bionarasi moderator. Setalah itu, Maizah mempersilakan Ketua Umum SDC untuk memberikan sambutan.

Deni Yatri sebagai Ketua Umum Sampang Development Center menyampaikan terima kasih kepada narasumber, tamu undangan serta para penyelenggara. Deni berharap, kegiatan tersebut bisa menambah wawasan dan intelektual para pemuda Sampang.

“Semoga kegiatan ini menambah intelektualitas teman-teman Sampang,” ujar Deni dalam sambutannya.

Kemudian Maizah menyapa Inok San selaku moderator dalam acara webinar tersebut.
Inok San mempersilakan Rahayu Hestiningsih menyajikan musikalisasi puisi, selaku yang bertugas. Dengan gitarnya yang khas, Ayu (sapaan akrabnya) menyanyikan puisi yang diambil dari buku kultum asmara, karya narasumber.

Setelah itu, moderator meminta Iis Singgih untuk membacakan puisi yang mau dibawakan, selaku salah satu dari tiga deklamator yang bertugas dalam acara Webinar Literasi itu.

Baca Juga:  Hari Ini 30 Kepala Suku Di Papua Naik Haji Atas Undangan Raja Arab

Kemudian Inok San membacakan bionarasi narasumber, Eko Widianto sebelum menyampaikan materinya terkait sejarah perjalanan Ejaan Bahasa Indonesia.

Sesi berikutnya adalah penyampaian materi.

“Ejaan bahasa Indonesia sangat rumit, bahkan di perkuliahan termasuk yang mahasiswa hindari,” papar Eko. Dia adalah Dosen UIN Semarang dalam bidang Bahasa dan Sastra Indonesia .

“Setiap bahasa memiliki ejaan yang absah: divalidasi secara hukum. Ejaan Bahasa Indonesia (EYD) dirumuskan secara futuristik,” katanya.

Dalam paparannya, Eko mengaku bersyukur bisa memiliki bahasa autentik yang merupakan bahasa sendiri yang resmi serta diatur dalam konstitusi.

“Bersyukur kita memiliki bahasa resmi sendiri, tidak menggunakan bahasa orang lain, dan itu sudah ada di konstitusi,” ujarnya.

“Jumlah penutur Bahasa Indonesia hampir 400 juta di dunia. Hampir sama dengan bahasa Rusia,” kata dia.

“Ejaan Bahasa Indonesia gampangnya adalah pedoman atau pegangan. Tongkat agar tidak nyasar, yang digunakan oleh masyarakat luas,” tandasnya.

Eko juga menceritakan sejarah panjang perkembangan Bahasa Indonesia, mulai dari Ejaan lama, Ejaan republik (19477), EYD (1972), PUEBI (2016), dan yang terakhir EYD V (2022). Dia juga menyampaikan perbedaan semuanya.

“Jika agama saja, kadang malah menjadi penyebab kita berselisih. Apalagi yang akan menyatukan kita? Hanya ada satu yang bisa menyatukan kita, yaitu bahaaa Indonesia,” ujar Eko. “Bahasa Indonesia menjadi bahasa negara: bahasa resmi negara,” sambungnya.

Baca Juga:  Merayakan Sastra dan Kota dalam JILF 2022

“EYD menjadi paling populer, karena perjalanannya paling lama. Ejaan berubah karena bahasa itu dinamis. Bukan karena tidak konsisten. Manfaat bahasa adalah menyatukan persepsi dari berbagai latar belakang daerah. Bahasa dipengaruhi kultur, dan setiap kultur memiliki distingsi,” kata Dosen UIN Semarang itu.

Kenapa disebut EYD V (EYD Versi V) dan kenapa kembali ke EYD? Karena perjalanan perubahan sudah yang kelima. Karena, EYD lebih dikenal. Masih banyak yang menyebut EYD, padahal sudah PUEB.

Mengapa harus ada EYD?
Karena:
1. Legalitas
2. Rujukan
3 .Ilmiah
4. Kebanggaan

“Termasuk karya sastra harus patuh kepada pedoman bahasa. Berarti kaku dong? Tidak. Baku tidak mesti kaku. Karena ini menunjukkan unsur kebenaran,” paparnya.

Setelah itu Eko menutup persentasinya dengan menyampaikan sebuah slogan, “Utamakan bahasa Indonesia. Lestarikan bahasa daerah. Kuasai bahasa asing.”

Kemudian dilanjut dengan acara diskusi, lalu ditutup dengan pembacaan puisi oleh Nugroho Putu. (***)

Tinggalkan Balasan

banner 728x90