HomeHukum dan HAM

Pakai Truk, Sekjen FUI Berencana Menabrak Gerbang DPR

Pakai Truk, Sekjen FUI Berencana Menabrak Gerbang DPR

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Penyidik Polda Metro Jaya mengungkapkan sejumlah rencana Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath. Sejumlah rencana tersebut adalah bahwa Ia bersama tersangka lainnya mencoba masuk ke Kompleks DPR/ MPR RI dengan cara menabrak gerbang dengan menggunakan truk.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, ada beberapa gambar yang diperoleh oleh tim penyidik rencana Al Khaththath dan kawan-kawan.

“Masuk ke gedung DPR/MPR ada beberapa jalan yang dilewati. Ada juga caranya untuk menabrakan kendaraan truk di pagar belakang DPR. Ada juga tujuh pintu dari hasil rapat itu, gorong-gorong, jalan setapak,” jelas Argo kepada wartawan di Markas polda Metro Jaya, Senin 3 April 2017.

Baca Juga:  Polda Metro Masih Buru Dua Tersangka Lain kasus Persekusi

Lebih lanjut, Argo menjelaskan, massa yang ikut aksi akan diarahkan masuk ke Kompleks DPR/ MPR setelah gerbang ditabrak. Sekjen FUI telah memperkirakan, jika semua massa aksi masuk ke dalam gedung DPR maka polisi akan kesulitan dalam mengeluarkannya.

Argo memastikan jika hal itu bisa disebut permufakatan dan niat. Meski demikian, Argo mengatakan, polisi masih melakukan penyidikan untuk menemukan otak yang merencanakan menabrak gerbang Kompleks DPR/MPR.

“Itu dari hasil pertemuan, nanti akan kami dalami. Untuk melakukan revolusi ini setelah 19 April atau setelah pencoblosan Pilgub DKI. Itu sudah ada perencanaan dan berkaitan pertemuan di situ,” jelas Argo.

Baca Juga:  KSPI Bantah Keikutsertaannya Dalam Aksi 212 Jilid II

Khaththath ditangkap dengan sangkaan makar pada Jumat dini hari pekan lalu atau menjelang aksi 313 atau 31 Maret 2017. Polisi menetapkan koordinator aksi 313 itu sebagai tersangka pemufakatan makar.

Polisi juga mencokok empat orang lainnya yakni: Zainudin Arsyad, Irwansyah, Vedrik Nugraha alias Dikho, dan Mar’ad Fachri Said alias Andre. Kelimanya dijerat Pasal 107 KUHP juncto Pasal 110 KUHP tentang Pemufakatan Makar.

Dikho dan Andre dikenai pasal tambahan yakni Pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Polisi menilai keduanya sempat melontarkan perkataan yang menghina etnis tertentu. (ET)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: