Spyware Israel Dalam Pemerintahan Mohammed bin Salman

SUARADEWAN.com – Pemerintahan Mohammed bin Salman atas Kerajaan Arab Saudi telah mengubah banyak kebijakan sejak ia bertahta tahun 2017. Semua itu ia lakukan agar visinya untuk menjadikan negara Arab tersebut moderat dan terbuka bagi dunia.

Salah satu usahanya adalah diadakannya Pesta Halloween beberapa saat lalu. Sebelumnya acara-acara seperti demikian tidak mungkin dilakukan karena prinsip tanah suci yang dimiliki Arab Saudi.

Kebijakan Mohammed bin Salman menuai banyak kritik baik dari dalam dan luar negeri. Namun, sepertinya beliau tidak gentar dengan banyaknya suara yang menentangnya. Sebaliknya, sebagai respon, ia membuat beberapa orang ditahan dalam penjara.

Baca Juga:  Asian Games 2018 Jadi Momen Bersejarah Bagi Bangsa Korea

Beberapa yang ditahan dalam penjara di bawah pemerintahan Mohammed bin Salman adalah kerabatnya sendiri. Mereka adalah Pangeran Abdullah bin Faisal Al Saud, Pangeran Salman bin Abdul Aziz, Pangeran Ahmed bin Abdul Aziz, dan Pangeran Mohammed bin Nayef. Mohammed bin Nayef sebenarnya dahulu pernah dicalonkan Raja Salman, ayahanda Mohammed bin Salman, untuk menggantikan tahtanya.

Baca Juga:  Perjuangan Greenpeace di Konferensi Keanekaragaman Hayati COP 15

Alasan penahanannya keempatnya adalah dugaan makar. Mohammed bin Salman memang sedang gencar mempertahankan posisi dan kebijakannya, dan tidak mau seorang pun mengganggunya. Dalam memata-matai orang yang diduga mengganggu posisi dan kebijakannya, Mohammed bin Salman bahkan diduga menggunakan Pegasus, spyware buatan Israel. ***

Tinggalkan Balasan

banner 728x90