Parade Mekiwuka, Tradisi Turun Temurun Sambut Tahun Baru Etnis Borgo di Manado

Mekiwuka merupakan parade yang dilakukan pada saat tengah malam jelang pergantian tahun dengan menggunakan alat musik tradisional.

SUARADEWAN.com — Di Kota Manado, ada salah satu tradisi menyambut tahun baru yakni Mekiwuka. Tradisi ini masih terus dilestarikan oleh etnis Borgo di Manado dan berlangsung meriah.

Tradisi tersebut sebagai ungkapan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan bersama-sama memasuki tahun yang baru.

Borgo berasal dari kata Burgers (baca: Berhers) dalam bahasa Belanda yang artinya warga bebas atau orang yang dibebaskan. Etnis Borgo yang ada di Sulut tersebar di beberapa daerah yang umumnya pesisir pantai, yaitu Manado, Kema, Tanawangko, Amurang, Belang, dan Likupang.

Etnis ini merupakan keturunan pendatang dari berbagai bangsa Eropa, di antaranya Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Jerman, dan lainnya yang diperkirakan masuk Sulut melalui pantai Manado, Kema dan Tanawangko pada tahun 1.500 an kemudian kawin mawin dengan warga pribumi suku Minahasa.

(Foto: Subhan Sabu)

Di Kota Manado, etnis ini tersebar di Pondol (ujung), Sindulang, Kampung Kananga/Mahakeret, Kampung Kakas -Tokambene, Komo dan Kampung kodo. Setiap memasuki tahun baru etnis yang tersebar di beberapa lokasi tersebut selalu melaksanakan Mekiwuka atau pesta rakyat tradisional.

Perayaan tersebut sebagai ungkapan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan bersama-sama dalam rasa persaudaraan memasuki tahun yang baru.

“Mekiwuka sudah dilaksanakan secara turun temurun selama ratusan tahun oleh warga Etnis Borgo dan juga oleh penduduk asli yang ada di sekitar pemukiman Borgo. Itu sudah menjadi tradisi tiap tahun, turun temurun,” kata Ronald Markus, pemuda di Kampung Kakas seperti dikutip dari sulut.inews.id, selasa (3/01/2023).

Tradisi Mekiwuka ini biasanya diadakan setiap tanggal 31 Desember. Setelah mengadakan ibadah ucapan syukur di Gereja masing-masing, maka tepat pukul 24.00 wita seluruh warga masyarakat saling berjabat tangan untuk mengungkapkan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru serta saling memaafkan antara warga masyarakat serta dengan pemerintah.

Dokumentasi 2019

“Setelah saling berjabat tangan antara warga Masyarakat, mereka berkumpul di depan rumah pemerintah setempat atau yang dituakan, sambil bernyanyi dan diiringi oleh alat musik tradisional etnis Borgo berupa Gitar, Jug atau Ukulele, Tambor, Biola, serta alat musik Iainnya,” tutur Onal, sapaan akrabnya.

Begitu memasuki pukul 24.00 Wita, masyarakat yang berkumpul kemudian saling bersilaturahmi, jabat tangan, masuk keluar rumah di kampung kakas kemudian kumpul semuanya, berdoa untuk tahun yang baru.

“Kemudian mengunjungi pemerintah setempat, kepala lingkungan, kepala kelurahan, kemudian tua-tua kampung, meminta ijin, minta ijin itu juga pakai lagu untuk keliling bersilaturahmi,” ujar Onal

Tokoh Masyarakat yang mewakili warga memberikan ucapan syukur dan rasa terima kasih kepada pemerintah setempat atau yang dituakan karena telah memimpin selama satu tahun yang lalu serta mohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, juga mohon petunjuk untuk memasuki tahun yang baru.

Pemerintah selanjutnya memberikan wejangan atau nasehat kepada warga dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan antara warga dengan pemerintah dan keluarganya.

“Setelah itu secara bersama sama berkunjung sambil bernyanyi dengan diiringi musik, mulai dari Kampung Kakas sampai ke Mahakeret, tidak pilih-pilih rumah, semuanya kami masuki, bahkan sampai pagi hari,” kata Onal

Dahulu tradisi Mekiwuka ini dilaksanakan oleh setiap etnis Borgo yang ada di kampung-kampung, seperti Mahakeret, Pondol, Kampung Tondano, Kampung Tombariri, Sindulang,  namun sekarang tinggal Kampung Kakas, Kelurahan Wenang Selatan, Kecamatan Wenang, Manado, Sulawesi Utara yang terus melaksanakannya setiap tahun. Bahkan tradisi ini diwariskan kepada anak cucu. Kelestariannya masih terus dijaga, dari generasi tua sampai generasi muda yang ada di kampung kakas mengetahui tradisi tersebut.

“Di Manado, hanya Kampung Kakas yang masih mempertahankan tradisi itu turun temurun, di Kampung Sindulang juga ada, namun hanya di Kampung Kakas yang lebih menjaga kelestariannya, dan itu merupakan tradisi asli Manado,” ujarnya. (inews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90