Pasangan Ini Rayakan Natal dengan Telanjang Bulat di Depan yang Lain!

SUARADEWAN.com – Perayaan keagamaan adalah perayaan yang sakral. Kesakralannya menuntut kekhidmatan bagi mereka yang merayakannya. Salah satu untuk menunjang itu adalah dengan  mengenakan pakaian yang pantas dan sopan.

Namun, apa jadinya jika dalam sebuah perayaan, ada sepasang lelaki-perempuan justru merayakannya dengan bertelanjang bulat di depan yang lain? Ya, pasutri ini rayakan Natal dengan telanjang bulat di depan yang lain!

Helen Berriman dan suaminya, Simon sudah menjalani gaya hidup Nudis sejak beberapa tahun silam. Namun, keluarga besar mereka tidak.

Di perayaan Natal tahun ini, Helen dan Simon menggelar acara makan siang dengan mengundang ibunya yang sudah berusia 75 tahun dan anak mereka yang berusia 15 tahun.

Tentu saja selama acara itu, Helen dan Simon akan bertelanjang bulat, sedangkan ibu dan anak mereka tidak dan mereka tidak mempermasalahkan itu.

“Beberapa orang menganggap kita gila, terutama ketika mereka mengetahui bahwa kita akan menggelar acara Natal, tapi mereka semua menerima tubuh kami dan semuanya merasa nyaman,” ujar Helen, seperti dikutip dari Caters, Sabtu (24/12/2022).

“Anak remaja kami dan ibu saya, keduanya menerima gaya hidup kami dan mereka tidak berpikir dua kali untuk menerima undangan kami,” imbuh Helen.

“Memang ini bukan untuk kebanyakan orang, tapi ini berhasil untuk kita. Kita akan bertukar kado, bermain games dan minum bersama, hanya perayaan Natal yang normal. Hanya saja, Simon dan saya tidak akan mengenakan pakaian,” lanjutnya.

Helen dan Simon bertemu pada tahun 2015 silam. Awalnya, Helen bingung ketika mengetahui fakta bahwa Simon adalah seorang Nudis.

Saat itu, Helen masih menjalani gaya hidup layaknya manusia biasa yang berpakaian lengkap. Baru pada tahun 2020, Helen mulai berani untuk membuka pakaian seluruhnya dan menjadi kaum Nudis seutuhnya.

Sejak saat itu, Helen mulai nyaman untuk mendatangi acara kumpul-kumpul yang digelar komunitas kaum Nudis, termasuk datang ke acara pameran lukisan telanjang.

“Saya merasa sangat rileks dan menyadari bahwa, mereka hanyalah sekumpulan orang normal dan menyenangkan. Saya memutuskan untuk melepas pakaian saya dan luar biasanya, tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada saya. Tidak ada orang yang jijik dan menghakimi terhadap tubuh saya,” kisah Helen.

Kini Helen berhenti dari pekerjaan normalnya, dan berganti profesi untuk menjadi penulis di majalah kaum Nudis. Mereka juga sering pergi liburan berdua ke resor-resor Nudis.

“Saya baru menyadari, saya telah menghabiskan hidup saya secara sia-sia dengan mengkhawatirkan apa yang orang pikirkan tentang pakaian saya. Semua orang punya bekas luka dan stretchmark, dan kini saya tidak perlu khawatir untuk menutupi mereka lagi,” tutupnya. [***]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90