HomeSkandalKontroversi

Pegiat AKPI: Mafia Lembaga Sensor FIlm Merusak Negara, Harus Dibongkar!

Pegiat AKPI: Mafia Lembaga Sensor FIlm Merusak Negara, Harus Dibongkar!

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Pegiat Anti Korupsi di Perfilman Indonesia (AKPI), Nando Tornando Togatorop memaparkan bahwa Lembaga sensor film Indonesia (LSF) saat ini sedang digerogoti praktek korupsi.

“Memang mafia ferfilman sedang berkuasa di LSF. Ini harus dibongkar. Merusak negara ini dan merusak Indonesia,” terang Nando di Jakarta, Sabtu (19/3/17)

Menurutnya, ada beragam modus korupsi di lembaga tersebut mulai dari pengadaan barang-barang, lelang hingga praktek percaloan.

“Kasusnya banyak banget. Belum lagi korupsinya, belum percaloannya, belum pengadaannya, belum lagi para anggota LSF-nya yang terus-terusan korup dan melanggar hukum,” ucapnya.

Nando mengakui, ada upaya privatisasi terhadap lembaga tersebut yang dilakukan oleh para petingginya salah satunya adalah Kepala Sekretariat LSF bernama Ir. Wawan Iriawan. Nando mengatakan, Wawan leluasa mengatur pemenang tender pengadaan barang.

Baca Juga:  Sinopsis Broken City: Skandal Pejabat & Masa Lalu Kelam Sang Detektif

“Sudah berkali-kali terjadi. Sudah dilaporkan juga. Bahkan, ada rekanan yang menang tender terus menerus di LSF itu. Nilainya yang kami hitung mencapai Rp 10 miliar. Ini baru dari satu pengadaan,” sebut Nando.

Selain itu, Wawan, lanjut Nando, sering memasang tarif harga yang cukup tinggi untuk setiap satu judul film yang hendak disensor, yakni Rp 25 juta hingga Rp 50 juta per satu judul filim. Padahal tarif resmi tidak sampai Rp 10 juta.

Baca Juga:  Kualitas Cerita dan Adegan Dewasa 5 Film Thailand Ini Bikin Gerah

“Jika tidak mau membayar tarif itu, maka judul filem itu tidak akan lulus sensor. Bahkan, perusahaan yang tidak punya IUP pun bisa diakal-akali biar lolos,” sambungnya.

Sebelumnya, sudah ada dua orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi di LSF. Ia mengimbau penegak hukum untuk serius dalam menngungkap kasus korupsi ini karena kerugian negara yang ditimbulkannya sudah sangat jelas.

“Namun, nampaknya penanganan kasusnya digantung-gantung, dan ada informasi bahwa penanganannya sengaja dibuat penyidik sebagai ajang pemerasan. Ini harus diusut tuntas,” tegas Nando. (DD)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: