HomeEkonomi

Pembangunan Jalan di Wilayah Perbatasan Menunjukkan Kemajuan yang Pesat

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Di tengah melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar, justru membuat presiden Joko Widodo semakin bekerjakeras. Banyak pengamat juga mengatakan, bahwa dengan terpuruknya mata uang rupiah terhadap dolar, belum sampai membuat Indonesia mengalami krisis seperti yang terjadi di tahun 1998.

Kondisi melemahnya rupiah, bukan berarti pemerintah berdiam diri. Jauh meneropong, daerah perbatasan Indonesia, Presiden Jokowi justru melakukan kerja-kerja yang realistis. Perkembangan pembangunan jalan perbatasan di Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Trans Papua mengalami perkembangan yang pesat.

Per Agustus 2015 ini menunjukkan kemajuannya. “Kemajuan pembangunan jalan perbatasan Kalimantan, NTT dan Trans Papua menggembirakan,” tulis Presiden Jokowi melalui akun twitternya @Jokowi yang diunggahnya pada Kamis (27/8) beberapa saat lalu.

Presiden, juga mengunggah fan page facebooknya pada Kamis (27/8) beberapa saat lalu, ia menyampaikan, bahwa jalan perbatasan Kalimantan sepanjang 771,36 kilometer (Km), membentang dari Kalimantan Barat, Kalimantan Utara hingga Kalimantan Timur.

“Sampai Agustus 2015, ruas yang sudah diaspal 188,37 Km dan ruas yang sudah fungsional sebagai jalan tembus 441,70 Km,” papar Jokowi.

Adapun jalan perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang 171,56 Km. Sampai akhir 2015 ditargetkan sepanjang 47 Km, tahun 2016 sepanjang 67,61 km, dan tahun 2017 adalah penyelesaian akhir sepanjang 56,95 km.

Sedangkan jalan Trans Papua sepanjang 4.325 Km. “Sampai saat ini jalan yang teraspal sudah mencapai 2.075 Km. Jalan Trans Papua ditargetkan rampung 2019,” kata Presiden Jokowi.

Total anggaran yang dialokasikan pemerintah sepanjang tahun 2015 untuk jalan perbatasan Kalimantan, NTT, dan Papua, menurut Presiden Jokowi, mencapai Rp 2 Triliun.

Pembangunan infrastruktur jalan di perbatasan itu, lanjut Presiden Jokowi, dimaksudkan untuk memudahkan pergerakan dan hubungan antar wilayah.

“Rakyat akan menikmati turunnya biaya logistik karena efisiensi biaya transportasi. Daerah perbatasan adalah halaman depan rumah Indonesia,” pungkasnya. (SD)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0