Sorot  

Penembakan Misterius 1982-1985, Otoritarianisme Orde Baru

SUARADEWAN.com – Peristiwa pelanggaran HAM berat yang telah diakui dan disesali Presiden Jokowi, salah satunya adalah kasus penembakan misterius yang terjadi pada kisaran tahun 1982-1985.

Penembakan misterius, atau yang lebih dikenal sebagai ‘Petrus’, awalnya untuk membasmi mereka yang identik dengan preman.

Seseorang dengan penampilan preman mempunyai stigma sebagai perusuh dan membebani negara dengan segala tingkah lakunya.

‘Petrus’ pertama kali terjadi di Yogyakarta. Orang-orang yang bertato, dan juga yang berpenampilan preman, menjadi target utama penembakan tersebut.

Ketakutan kemudian meluas ke daerah lain.

Ciri khas aksi ‘Petrus’ adalah tiga luka tembak di tubuh korban. Sebagian besar korban juga mendapatkan luka cekik di leher.

Di atas mayat korban yang dibiarkan tergeletak selalu ada uang Rp10.000,- ditinggalkan oleh pelaku untuk biaya penguburan.

JUmlah korban dari ‘Petrus’ mencapai 10.000 jiwa. Data ini diperoleh dari penelitian David Bourchier yang diterjemahkan Arief Budiman.

Laporan penelitian tersebut berjudul “Crime, Law, and State Authority in Indonesia” yang terbit tahun 1990.

Sedangkan, pada Komnas HAM, jumlah pengaduan atas peristiwa tersebut baru 2.000 jiwa.

Aksi ‘Petrus’ ini kemudian dikenal sebagai kontrol otoritarian Orde Baru pada kejahatan jalanan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90