Kolom  

Pengertian dan Jenis-jenis Hutang Piutang

SUARADEWAN.com — Hutang piutang mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Rasanya hampir semua orang pernah terlibat dalam urusan utang piutang. Berikut Penjelasan singkat dari Pengertian dan Jenis-jenis Hutang Piutang.

Pengertian Hutang Piutang

Hutang piutang adalah hutang kita kepada orang (lain), dan hutang orang (lain) kepada kita. Yang artinya adanya suatu kewajiban untuk melaksanakan janji untuk membayar.

Hutang piutang adalah wilayah koridor hukum perdata, yakni aturan yang mengatur hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya, dengan menitikberatkan pada kepentingan perorangan atau pribadi.

Perjanjian Hutang Piutang

Hutang piutang dianggap sah secara hukum jika dibuat suatu perjanjian. Yakni perjanjian yang berdasarkan hukum yang diatur pada Pasal 1320 KUHPerd, meliputi antara lain:

  1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, Semua pihak menyetujui materi yang diperjanjikan, tidak ada paksaan atau di bawah tekanan.
  2. Cakap untuk membuat perjanjian, Artinya para pihak telah dewasa dan tidak di bawah pengawasan, karena prilaku yang tidak stabil, dan bukan orang-orang yang dalam undang-undang dilarang membuat suatu perjanjian tertentu.
  3. Mengenai suatu hal tertentu, Perjanjian yang dilakukan menyangkut obyek/hal yang jelas.
  4. Suatu sebab yang halal, Perjanjian dilakukan dengan itikad baik, bukan ditujukan untuk suatu kejahatan atau perbuatan melawan hukum.

Manfaat Hutang Piutang

  1. Manfaat Hutang, Hutang sering dimanfaatkan sebagai sumber modal awal saat memulai usaha. Juga dapat menjadi alternatif pembiayaan saat dalam keadaaan mendesak.
  2. Manfaat Piutang: Sebagai aset berharga baik bagi perorangan mauun perusahaan, Dapat diambil dalam jangka waktu sesuai dengan kesepakatan hutang, Biasanya bisa mengambil keuntungan dari uang yang kita hutangkan, di dunia perbankan biasa disebut dengan margin atau bunga, yaitu keuntungan selisih saat meminjamkan dengan saat mengambil.

Jenis-jenis Hutang

1. Hutang Lancar (Current Liabilities)

Hutang lancar adalah kewajiban yang harus dilunasi dalam tempo satu tahun.
Contoh: hutang dagang, atau beban yang harus dibayar, bisa juga hutang dagang dan hutang pajak, pendapatan diterima di muka, dan sebagainya.

2. Hutang Jangka Panjang (Long-Term Liabilities)

Hutang jangka panjang adalah kewajiban yang harus dilunasi dalam jangka waktu lebih dari setahun. Contoh: Hutang hipotek atau hutang obligasi yang jatuh tempo lebih dari setahun, bisa juga hutang pinjaman jangka panjang, dan sebagainya.

3. Hutang Lain-lain (Other Payable)

Perkiraan atau akun ini digunakan untuk mencatat hutang lain yang tidak termasuk pada hutang lancar dan hutang jangka panjang. Contoh: uang jaminan atau hutang pada pemegang saham, dan sebagainya.
Baca juga: Manfaat Menggunakan Layanan Pengacara dan Konsultan Hukum

Jenis-jenis Piutang

1. Piutang Usaha

Piutang usaha (account receivable) adalah suatu jumlah pembelian kredit dari pelanggan. Piutang ini muncul sebagai akibat dari penjualan barang atau jasa. Piutang ini biasanya diperkirakan akan tertagih dalam waktu 30-60 hari. Secara umum, jenis piutang ini merupakan piutang terbesar yang dimiliki perusahaan.

2. Wesel Tagih

Wesel Tagih (notes receivable) adalah surat formal yang diterbitkan sebagai bentuk pengukuran utang. Wesel tagih biasanya memiliki waktu tagih antara 60-90 hari, bahkan lebih lama serta mewajibkan pihak yang berhutang untuk membayar bunga. Wesel tagih dan piutang usaha yang disebabkan karena transaksi penjualan biasa disebut dengan piutang dagang (trade account).

3. Piutang Lainnya

Piutang lain-lain (other receivable) adalah mencakup selain piutang dagang. Contoh: piutang bunga, piutang gaji, uang muka karyawan, dan restitusi pajak. Secara umum bukan berasal dari kegiatan operasional perusahaan. Oleh karena itu, piutang jenis ini diklasifikasikan dan dilaporkan pada bagian yang secara terpisah di neraca. (artikel asli)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90