oleh

Perdagangan Dunia, Indonesia Peringkat Terbawah dari 6 Negara Besar ASEAN

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Indonesia harus semakin meningkatkan daya saing dalam menghadapi perdagangan dunia di masa depan. Ekonom FEB UI, Fithra Faisal, mengatakan, berdasarkan tingkat partisipasi dalam Global Production Network, Indonesia menduduki peringkat terbawah dari enam negara besar di Asia Tenggara.

“Kalau ketinggalan sama Thailand, Malaysia mungkin kita sudah beberapa tahun yang lalu. Tapi kini kita ketinggalan sama Vietnam dan Filipina,” jelas Fithra di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (24/3).

Bahkan di salah satu daerah di Myanmar, ongkos apartemennya ada yang sudah setara dengan di New York, Amerika Serikat. Fithra menilai hal itu menandakan adanya ekspatriat yang masuk ke negara tersebut.

Baca Juga:  Dampak Ekonomi Covid-19: 1,2 Juta Pekerja Kena PHK dan Dirumahkan Tanpa Gaji

“Mereka (Myanmar) sudah terbuka. Ongkos produksi mereka lebih murah, kita? Kalau kita bicara skill delivery menurut penelitian, produksi kita relatif stagnan, tetapi upahnya naik terus, akhirnya kehilangan competitiveness (daya saing),” papar ahli perdagangan internasional tersebut.

Lebih lanjut Fithra menjelaskan, Indonesia bisa menjadi negara industri yang kuat. Hal itu dibuktikan bagaimana kontribusi sektor manufaktur di tahun 2001 terhadap Gross Domestic Product (GDP) sebesar 29 persen. Namun perlahan pertumbuhan ekonomi persisten negatif atau mengalami penurunan terus menerus, sehingga mengalami kesulitan memanfaatkan ekspor, dan kesulitan memanfaatkan pertarungan ekonomi dunia.

Baca Juga:  Ekonom Senior Anwar Nasution: Fundamental Ekonomi Indonesia Lemah

Oleh karena itu pembangunan infrastruktur menjadi penting untuk meningkatkan industrialisasi. “Saya mengapresiasi pemerintah sekarang yang fokus di infrastruktur, infrastruktur ini adalah satu komponen paling penting. Karena kalau kita bicara industrialisasi, komponennya infrastruktur,” ungkapnya. (rep)

Komentar

Berita Lainnya