Peristiwa Simpang KKA, TNI Tembaki Warga 20 Menit Lebih

Peristiwa Persimpangan KKA adalah bentrokan TNI dengan warga setempat yang diakhiri berondongan peluru selama 20 menit lebih. Peristiwa ini termasuk 12 peristiwa pelanggaran HAM berat. (Foto: twitter @amnsetyindo)

SUARADEWAN.com – Salah satu dari 12 peristiwa yang diakui oleh Presiden Jokowi dan akan diusahakan penyelesaiannya secara yudisial adalah Peristiwa Simpang Kertas Kraft Aceh (KKA) atau disebut Insiden Dewantara atau Tragedi Krueng Geukeuh.

Peristiwa Simpang KKA terjadi pada 3 Mei 1999 di Kecamatan Dewantara, Provinsi Aceh. Dalam peristiwa tersebut dua pasukan TNI menembaki warga setempat selama lebih dari 20 menit.

Awal dari tragedi ini adalah hilangnya seorang anggota TNI yang diduga menyusup ke masyarakat ketika pengajian besar untuk merayakan 1 Muharam pada 30 April 1999.

Pasukan TNI Den Rudal 001 Pulo Rungkom lalu mendatangi Desa Cot Murong untuk mencari anggotanya tersebut. Tetapi karena tidak ketemu, kemudian mengancam warga.

Dalam penyisiran untuk mencari anggotanya tersebut, TNI juga melakukan penganiayaan terhadap warga. Dilaporkan 20 warga yang menderita karena penganiayaan tersebut.

Warga kemudian mengirim wakilnya ke markas TNI setempat untuk bernegosiasi agar tidak terjadi hal yang sama. TNI pun berjanji, bahkan bila hadir di desa, TNI harus didampingi camat.

Tetapi perjanjian tersebut dilanggar oleh TNI. Pada 3 Mei 1999, 1 truk tentara memasuki Desa Cot Murong. Mereka akhirnya diusir warga.

Penduduk desa Cot Murong yang geram karena perjanjian dilanggar lalu menggelar aksi demonstrasi di simpang KKA.

Dalam demonstrasi tersebut, 5 orang perwakilan warga berdiskusi dengan komandan TNI. Tetapi saat itu juga tentara yang mengepung tempat itu semakin banyak.

Seorang tentara dilaporkan melempar kayu ke arah warga. Pancingan ini kemudian dibalas warga dengan melempari batu ke markas Korem 011 dan membakar dua sepeda motor.

Kemudian dua truk Artileri Pertahanan Udara datang dari belakang dan menembaki warga. Dalam sebuah laporan tertulis dikatakan pasukan TNI tersebut menembaki warga selama lebih dari 20 menit.

Dalam insiden tersebut, sebuah komisi independen melaporkan jumlah korban adalah 39 warga sipil yang tewas, termasuk seorang anak berusia tujuh tahun. Dan 156 orang mengalami luka tembak. Serta 10 warga sipil hilang.

Ketika penyelidikan, TNI menyangkal penggunaan peluru tajam saat menembaki warga. Tetapi pada kenyataannya sejumlah dokter rumah sakit mengatakan menemukan peluru timah pada 38 jenazah dan 115 korban luka yang mereka tangani. ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90