Peristiwa Talangsari, 250 Jiwa Dikorbankan Demi Asas Pancasila

Peristiwa Talangsari sudah berumur 32 tahun dan belum ada penyelesaian apa pun. (Foto: twitter Amnesty International Indonesia)

SUARADEWAN.com – Otoritarianisme Orde Baru tidak berhenti hanya pada Peristiwa 1965-1966 dan Penembakan Misterius. Salah satu dari 12 peristiwa pelanggaran HAM berat yang diakui dan disesali Presiden Jokowi adalah Peristiwa Talangsari.

Di Lampung, otoritarianisme Orde Baru menjadi nyata dengan penghapusan keberadaan sebuah desa bernama Talangsari.

Kronologi terjadinya peristiwa Talangsari berawal dari pihak militer yang memaksa seorang bocah bernama Ahmad, berusia 10 tahun, untuk membakar rumah-rumah yang termasuk kelompok pengajian Warsidi.

Ahmad dipaksa menyiramkan bensin ke sejumlah rumah dan membakarnya. Setelah itu, Ahmad juga dipaksa membakar pondok pesantren, dan beberapa bangunan lain.

Bayi, anak-anak, remaja, dan ibu-ibu hamil, dan para lanjut usia dilaporkan tewas dalam kebakaran tersebut. Jumlahnya sekitar 100 orang.

Korban bertambah dengan 27 orang yang dibunuh tanpa proses hukum, 5 orang diculik, 78 orang hilang, 23 orang ditangkap dengan sewenang-wenang, dan 24 orang lainnya diusir.

Data tersebut adalah yang ada di tangan Komnas HAM.

Peristiwa Talangsari ini terjadi pada 7 Februari 1989. Sebuah sumber mengatakan bahwa Komando Korem Garuda Hitam 043 pimpinan Kolonel Hendropriyono adalah yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

Sebuah sumber lain mengatakan bahwa tragedi dilakukan dengan penyerangan terang-terangan ketika kelompok pengajian Warsidi tersebut sedang bersiap mengadakan pengajian akbar.

Kelompok ini kemungkinan diduga melakukan separatisme saat itu, karena mengusahakan berdirinya desa yang menganut syariat Islam, bukan asas Pancasila.

Setlah tragedi, Talangsari ditutup untuk umum dan berada dalam kekuasaan Korem Garuda Hitam. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90