Perjuangan Greenpeace di Konferensi Keanekaragaman Hayati COP 15

SUARADEWAN.com – Greenpeace masih konsisten dengan perjuangannya. Kini Greenpeace tengah memperjuangkan keanekaragaman hayati di Konferensi Keanekaragaman Hayati COP 15 supaya memiliki perlindungan hukum.

COP (Conference of The Parties) adalah pengambil keputusan tertinggi dari United Nations Framework Convention on Climate Change yang diresmikan dan ditandatangani tahun 1992 selama KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brazil.

Aturan yang buruk,  kata Greenpeace,  akan melahirkan malapetaka. Begitu pun sebaliknya. Oleh karenanya, cita-cita untuk melindungi bumi harus ditopang dengan undang-undang yang memiliki legalitas hukum.

“Kebijakan atau aturan yang buruk hanya akan membawa malapetaka, sedangkan kebijakan yang baik jelas akan membawa kebaikan dan keadilan,” tulis Greenpeace di instagram @greenpeaceid, Rabu (7/12).

Greenpeace mengungkapkan bahwa yang sedang diperjuangkan di Konferensi tersebut adalah bagaimana supaya negara-negara di dunia berkomitmen untuk melindungi keanekaragaman hayati dunia.

“Inilah yang sedang kami perjuangkan di Konferensi Keanakeragaman Hayati COP 15 yang saat ini sedang berlangsung di Montreal, Kanada. Bagaimana supaya negara-negara di dunia berkomitmen untuk melindungi keanekaragaman hayati dunia dan juga masyarakat adat yang merupakan penjaga terdepan dari alam kita,” paparnya.

“Semoga Indonesia sebagai bagian dari konferensi ini, menyadari anugerah keanekaragaman hayati yang kita miliki ini, dan berinvestasi yang benar dengan melindunginya dan juga masyarakat adat di Indonesia,” imbuh Greenpeace.

Greenpeace paparkan 5 Fakta penting terkait Biodiversity COP 15:

1. Nama resmi Konferensi Keanekaragaman Hayati adalah CBD COP 15.
CBD singkatan dari Convention on Biological Diversity.

2. CBD adalah perjanjian Multilateral yang telah diratifikasi oleh 195 pihak.
Tujuannya adalah mengembangkan strategi nasional untuk konservasi keanekaragaman hayati, pemanfaatan komponen secara berkelanjutan dan pembagian keuntungan yang adil dan merata yang dihasilkan dari sumberdaya genetik.

3. Negosiasi tahun ini akan fokus pada: Target baru dan terukur untuk memulihkan hilangnya keanekaragaman hayati secara global; Sumber daya dan keuangan yang cukup untuk melaksanakan target tersebut; Mekanisme pelaksanaan yang diakui secara internasional dan mengikat secara hukum.

4. Apa yang terjadi di Montreal, Kanada berpotensi menjadi “momen Paris” bagi keanekaragaman hayati.

5. Montreal,  Kanada adalah upaya terakhir hingga 2030 untuk menyelesaikan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global yang ambisius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90