HomeDaerahNusa Tenggara

Pernyataan Pandemi Jadi Proyek Bikin Rapat DPRD Sikka dengan Nakes Ricuh

Pernyataan Pandemi Jadi Proyek Bikin Rapat DPRD Sikka dengan Nakes Ricuh

SIKKA, SUARADEWAN.com — Rapat Dengar Pendapat (RDP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan tenaga kesehatan (nakes) di gedung DPRD Sikka berujung ricuh, (12/7).

Kericuhan terjadi setelah anggota dewan menyebut Covid-19 hanya dijadikan proyek bagi rumah sakit untuk mendulang rupiah.

Usai perwakilan nakes menyampaikan enam butir pernyataan sikapnya, terjadi dialog antara para nakes dan anggota DPRD. Namun acara dialog yang berlangsung lebih dari tiga jam itu semakin memanas hingga berujung pada kericuhan.

Dikutip dari Liputan6.com, kericuhan bermula saat Ketua DPRD, Donatus David mengetuk palu untuk mengakhir rapat. Padahal belum ada kesimpulan antara DPRD dan perwakilan tenaga kesehatan dari 16 organisasi profesi kesehatan Kabupaten Sikka yang hadir.

Usai palu diketuk, salah satu anggota DPRD, yaitu Frans Sinde tidak menerima keputusan pimpinan DPRD yang menutup sidang, padahal dirinya masih berbicara. Dia pun berteriak dan membanting salah satu dokumen ke atas meja. Aksi Frans Sinde memicu reaksi dari anggota DPRD lainnya yang berusaha menenangkannya.

Dengan nada kecewa, anggota DPRD dari Fraksi PAN, Fransiskus Cinde bahkan melepas baju safari yang dikenakannya. Dia juga membanting dokumen yang ada di mejanya ke lantai.

Baca Juga:  Usman Husin Gencar Ajak Mayarakat Rote Ndao Kota Kupang Patuhi Protokol Kesehatan

Suasana semakin gaduh saat puluhan tenaga kesehatan pergi keluar gedung saat Frans Sinde masih berteriak-teriak dan marah.

Dalam RDP tersebut, anggota DPRD Sikka Benediktus Lukas Raja atau biasa disapa Dicky Raja sudah menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya yang dinilai menyinggung para nakes terkait proyek pandemi Covid-19.

Dokter spesialis paru RSUD Dr TC Hillers Maumere, dokter Asep Purnama mengatakan, para dokter kecewa dengan pernyatan seorang anggota DPRD dari Fraksi PDIP yang menyatakan Covid-19 diproyekan dan para dokter meng-Covid-kan warga.

“Kami (para dokter) hanya meminta anggota dewan tersebut meminta maaf kepada para nakes dan para nakes tidak mau kalau di Sikka banyak warga yang mati karena Covid,” katanya.

Sementara dokter Ignasius Henyo Kerong menilai, RDP antara nakes dan DPRD Sikka belum selesai, sebab anggota DPRD Sikka belum menjawab tuntutan surat pernyataan sikap bersama organisasi profesi kesehatan Kabupaten Sikka.

“Kalau memang pernyataan sikap ini juga tidak dijawab, maka kami akan tetap melanjutkan kosentrasi melayani para pasien,” sebutnya.

Baca Juga:  Miris! Jenazah Covid-19 di Ende-NTT Dibungkus Terpal Karena Tak Ada Kantong Jenazah

Lebih lanjut ia mengatakan walaupun belum ada jawaban terhadap tuntutan surat pernyataan sikap bersama organisasi profesi kesehatan Kabupaten Sikka, para nakes tidak akan terpengaruh dengan siapa pun, mereka akan terus melayani pasien dengan jiwa dan raga.

Sebelumnya, anggota DPRD Sikka Benediktus Lukas Raja berpendapat semua orang sedang takut dengan Covid-19. Akibatnya penanganan tidak maksimal, sehingga terjadi peningkatan kasus.

Dia lalu menilai kasus kematian yang terjadi di Kabupaten Sikka, tidak semuanya karena Covid-19, tapi diakibatkan oleh penyakit lain.

“Jangan sampai Pak Ketua, catat apa yang saya sampaikan, pandemi ini dijadikan proyek. Pandemi ini dijadikan proyek untuk menghabiskan uang rakyat,” katanya.

Pernyataan kontroversial anggota DPRD itu memicu reaksi dari para nakes. Mereka menuntut anggota DPRD dari Fraksi PDIP tersebut meminta maaf. [mer/cob]

Comment