Perubahan Iklim: Greenwashing Chevron dan DuPont

SUARADEWAN.com – Jay Westerveld, seorang ahli lingkungan dan perubahan iklim, pada 1986 menyebutkan istilah ‘greenwashing’ yang pertama kali. Ia menggunakannya dalam sebuah artikel perubahan iklim dan esai kritis mengenai ‘save the towel’.

Saat itu, aksi ‘save the towel’ gencar dilakukan banyak hotel. Selain memangkas biaya operasional untuk deterjen, aksi ini menambah kredibilitas hotel yang ramah lingkungan.

Gagasan ini terkuak pada masa semua orang lebih banyak menonton televisi, radio, dan media cetak.

Orang-orang ini tidak dapat memeriksa fakta seperti yang dapat dilakukan pada masa digital sekarang.

Di pertengahan tahun 80-an, misalnya, perusahaan minyal Chevron mengiklankan perusahaannya dalam televisi dan media cetak untuk memperlihatkan dedikasinya terhadap lingkungan dan perubahan iklim.

Tetapi pada saat yang sama, Chevron secara aktif melanggar Undang-Undang Udara Bersih dan Undang-Undang Air Bersih. Perusahaan ini juga menumpahkan minyak ke lokasi margasatwa.

Selain Chevron, ada DuPont yang pada tahun 1991 mengiklankan kapal tanker minyak berlambung ganda dengan hewan laut berjingkrak-jingkrak dalam paduan suara Ode to Joy karangan Beethoven. DuPont adalah perusahaan pencemar terbesar dalam perubahan iklim di AS pada tahun yang sama.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90