Perubahan Iklim: Greenwashing yang Mencuci Persepsi Kita

SUARADEWAN.com – Greta Thunberg menolak untuk menghadiri COP27 karena menurutnya pertemuan itu tidak benar-benar membahas perubahan iklim sebenarnya.

Hal tersebut ia katakan saat launching buku pertamanya, The Climate Book, yang berisi ratusan artikel tentang perubahan iklim dari pakar-pakar lingkungan di seluruh dunia.

“COPs terutama digunakan sebagai kesempatan bagi para pemimpin dan orang-orang yang berkuasa untuk mendapatkan perhatian, menggunakan berbagai jenis greenwashing.” Begitu yang dikatakan Greta.

Greenwashing, dikutip dari Business News Daily, adalah istilah ketika sebuah perusahaan mengaku sadar lingkungan untuk tujuan pemasaran. Tetapi sebenarnya ia tidak melakukan upaya keberlanjutan yang penting.

Greenwashing juga berarti sebuah organisasi yang menghabiskan banyak uang dan kesempatan untuk mencitrakan dirinya, sebagai bagian dari strategi pemasaran, sebagai organisasi yang ramah lingkungan, jauh lebih dominan dari pada aksi nyatanya meminimalkan dampak ekologi.

Jay Westerveld, seorang ahli lingkungan, pada 1986 menyebutkan istilah ‘greenwashing‘ yang pertama kali. Ia menggunakannya dalam sebuah artikel dan esai kritis mengenai ‘save the towel‘.

Save the towel‘ adalah aksi hotel yang terlihat ramah lingkungan, berkaitan dengan meminimalkan penggunaan deterjen pencuci handuknya. Di balik itu tersembunyi motif penghematan biaya operasional. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90